Erwin Burase menekankan pentingnya keberlanjutan. Festival satu kali tak cukup. Harus ada kontinuitas program. Pemberdayaan masyarakat jadi ujung tombak. Tanpa itu, festival hanya jadi seremonial belaka.
Tantangan Menuju Event Berkelas Dunia
Tentu saja, jalan menuju internasional tak mulus. Infrastruktur masih jadi pekerjaan rumah. Akses ke lokasi perlu diperbaiki. Fasilitas pendukung harus memadai. Promosi digital belum maksimal.
Namun Parigi Moutong tampak serius. Komitmen sudah dinyatakan. Langkah konkret mulai diambil. Kolaborasi dengan berbagai pihak terus diperkuat. Evaluasi berkala dijadikan acuan perbaikan.
Yang menarik, ada kesadaran bahwa ini bukan sprint. Ini maraton panjang. Butuh waktu mengubah event lokal jadi magnet internasional. Tapi dengan konsistensi dan inovasi, bukan mustahil Teluk Tomini jadi destinasi yang disegani.
Parigi Moutong kini berada di persimpangan. Festival Teluk Tomini bisa jadi game changer, atau sekadar event musiman yang terlupakan. Pilihan ada di tangan pemda dan masyarakat. Laut sudah memberi hadiahnya. Tinggal bagaimana hadiah itu dikelola—dengan bijak, atau dibiarkan tersapu ombak waktu.
Baca Juga: Parigi Moutong Tancap Gas, Festival Teluk Tomini Kembali Raih Pengakuan Nasional
Artikel Terkait
Keberlanjutan Festival Teluk Tomini Parigi Moutong Jadi Kunci Tarik Wisatawan, Gubernur Sulteng Usul Jalur Pelayaran Baru
67 Persen Kapolsek Tidak Perform, Mahfud MD Bongkar Data Internal Polri yang Mengejutkan
KUHAP Baru Tuai Polemik: Celah "Keadaan Mendesak" Disorot Publik
Bupati Parigi Moutong Tekankan Pentingnya Pembinaan Atlet Jelang Porprov 2026
Parigi Moutong Tancap Gas, Festival Teluk Tomini Kembali Raih Pengakuan Nasional