Sulawesitoday - Apple menyerah.
Tidak ada cara lain menyebutnya. Perusahaan paling bernilai di dunia itu akhirnya tunduk. Bukan kepada pasar. Bukan kepada teknologi baru. Tapi kepada tekanan pemerintah China.
Mulai Minggu kemarin, komisi Apple App Store di China resmi dipangkas. Dari 30 persen menjadi 25 persen. Untuk pengembang kecil yang ikut program usaha kecil Apple, potongannya lebih dalam: dari 15 persen menjadi 12 persen.
Bagi yang belum tahu, komisi 30 persen itu bukan angka biasa. Dunia menyebutnya "Apple Tax". Pajak yang bukan pajak. Dipungut bukan oleh negara, tapi oleh sebuah perusahaan swasta. Kepada siapa saja yang ingin berjualan di toko mereka.
Bayangkan. Anda membuka warung. Setiap barang yang laku, 30 persen masuk ke kantong pemilik gedung. Bukan sewa gedung. Bukan listrik. Bukan keamanan. Tapi semata-mata karena Anda berjualan di sana.
Itulah Apple Store selama ini.
Para pengembang aplikasi sudah lama mengeluh. Tapi Apple diam. Mereka terlalu besar untuk mendengar. Terlalu kuat untuk peduli. Ekosistem iOS adalah kerajaan mereka. Aturan mereka yang berlaku.
Uni Eropa sudah lebih dulu bergerak. Pada 2024, mereka memaksa Apple memangkas komisi menjadi sekitar 10 hingga 17 persen untuk pengembang Eropa. Di Amerika Serikat sendiri, Apple mulai mengizinkan metode pembayaran alternatif—meski dengan segala syarat dan batasan yang membuat kepala geleng-geleng.
Tapi China berbeda.
China tidak perlu menggunakan pengadilan. Tidak perlu undang-undang antimonopoli yang panjang. Cukup dengan panggilan. Dengan pembicaraan. Antara Apple dan kementerian teknologi informasi China. Antara Silicon Valley dan Beijing.
Rich Bishop, pendiri AppInChina, berterus terang. Katanya: Apple telah berbicara dengan kementerian TI dan departemen-departemen lain. Diminta—atau ditekan—untuk menurunkan biaya mereka.
"Diminta atau ditekan." Kalimat itu menarik. Bishop sendiri yang memilih diksi itu. Ia tahu betul perbedaan antara keduanya. Dan ia memilih untuk tidak memilih.
Yang jelas: Apple bergerak. Itu yang penting.
Lalu berapa besar dampaknya?
Artikel Terkait
Seri iPhone 16 Membuat Para Penggemar Apple Antre 21 Jam di India, Apa yang Terjadi?
Geram! Apple Minta Tax Holiday 50 Tahun, DPR RI Desak Blokir iPhone dari Indonesia!
Pembatalan Proyek Kacamata AR Apple Mengundang Tanda Tanya, Sementara Meta Ray-Ban Terus Melaju
Persaingan Sengit: Apple Menghadapi Tekanan di China dengan Integrasi DeepSeek
Kalah Pacu AI, Apple Pilih Gemini demi Siri