Sulawesitoday - Sebuah pemandangan ganjil nan memilukan kini menghiasi lini masa media sosial. Punggung-punggung bukit di sekitar Kota Palu, yang biasanya hijau rimbun, kini terlihat ‘botak’ bak tak berdaya. Bukan karena musim kemarau panjang atau tersambar petir, melainkan jejak luka menganga dari aktivitas tambang galian C yang tiada henti. Video yang menguak fakta miris ini sontak viral, memantik jeritan warganet yang lelah melihat alam ibu pertiwi terus digerogoti atas nama pembangunan.
Video yang diunggah oleh akun TikTok @Novhi_DaihatsuPalu itu dengan cepat menyebar, menjadi santapan empuk bagi mata publik yang haus akan kejelasan. Deretan komentar pedas, getir, dan penuh tanya pun langsung membanjiri kolomnya. Seolah sebuah cermin besar, unggahan itu merefleksikan kegelisahan kolektif masyarakat atas degradasi lingkungan yang kian hari kian parah.
Salah satunya datang dari akun @Arief J R yang bersuara lantang. "Pemda setempat sebaiknya mulai memikirkan dampak yg akan terjadi terhadap lingkungan dan masyarakat lokal dimasa depannya.. kalau tdk yahhh tau sendiri apa yg akan terjadi dimasa akan datang…," tulisnya, dengan emotikon tawa yang justru menyimpan satire. Sentilan serupa juga dilontarkan akun @Dionz robot, yang mengingatkan tentang ‘hukum alam’. "ingat hukum alam td pernah meleset gunung penyeimbang bumi nanti kita tunggu," ujarnya, seolah memberi peringatan keras.
Kekhawatiran praktis juga ikut mengemuka. Akun @Dali Aswari menggambarkan situasi pahit yang harus dihadapi warga sekitar. "kalau musim panas debunya minta ampun dah kalau lewat situ," keluhnya, membayangkan betapa tidak nyamannya hidup dalam kepungan debu. Bukan hanya itu, potensi bencana hidrologi turut menjadi sorotan. Akun @Pusaka menyoroti ancaman longsor. "kasian perumahan yg ad di bwah itu, klw terjadi hujan lebat berminggu minggu itu berpotensi longsor karna resapan air dari pepohonan sudah tdk ad lgi," urainya, mengutip bahaya yang membayangi hunian di bawah kaki bukit yang terlanjur porak-poranda.
Namun, di antara semua keluhan dan kekhawatiran itu, ada satu pertanyaan fundamental yang paling menohok, datang dari akun @bayu rhan'z. "as,,,,yg maw ditanyakan ,tdak mngkin krerakyat, tapi dimana mata pemerintahan baik yg ad dipusat atw wilayah tersebut ,semuanya masalah masuknya perusahaan itu tdk mungkin melalui rakyat biasa, klw rakyat berbicara pasti dihadapkan pada Institut pengalaman srprti polisi TNI itu kan nyata, jadi maw salahkan rakyat jrlata atw biasa? MOROWALI," tulisnya panjang lebar, menyiratkan adanya kekuatan besar di balik operasi tambang yang seolah tak tersentuh. Sebuah gugatan telak tentang siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab, dan mengapa jeritan rakyat jelata kerap terbungkam di hadapan “institusi”.
Lantas, akankah punggung bukit Palu ini terus menanggung beban pengerukan hingga benar-benar telanjang? Atau, adakah secercah harapan bagi Palu untuk kembali menghijau, sebelum alam benar-benar murka?
Artikel Terkait
1200 Hektare Mangrove Lenyap, Ini Seruan FKPAPT untuk Parigi Moutong yang Terluka
Devisa Pekerja Migran Jadi Tumpuan, Sulteng Gelar Sosialisasi dan MoU Lindungi Warga dari Jerat Ilegal
Pengumpulan Berkas Beasiswa S1 Berani Cerdas Sulteng Dimulai 11 Juni, Jembatan Harapan Menuju Kampus Impian
Tanggapi Nadiem, Kejagung Ungkap Fakta di Balik Klaim Pendampingan Hukum pada Kasus Pengadaan Chromebook
Warga Polman Resmikan Sendiri Jalan Daruratnya yang Sempat Terputus Akibat Longsor