• Selasa, 21 Juli 2026

Awan Abu Setinggi 18 Ribu Meter Bak Teror, Status Awas Lewotobi Laki-laki Masih Tinggi

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Sabtu, 2 Agustus 2025 | 20:14 WIB
BNPB mendesak warga Flores Timur tinggalkan KRB usai letusan Lewotobi Laki-laki dengan abu 18.000m. Status Awas masih berlaku. Tetap waspada!
BNPB mendesak warga Flores Timur tinggalkan KRB usai letusan Lewotobi Laki-laki dengan abu 18.000m. Status Awas masih berlaku. Tetap waspada!

Sulawesitoday - Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, masih tinggi. Status Awas atau Level IV tetap diberlakukan sejak 17 Juni lalu. Sebuah peringatan keras. Menyusul letusan dahsyat Jumat malam lalu yang melontarkan abu hingga 18 ribu meter ke langit. Awan abu ini bak teror. Memporakporandakan kenyamanan warga.

Kepanikan warga sempat pecah. Erupsi Jumat (1/8) pukul 20:48 WITA itu memang luar biasa. Kolom abu membumbung. Menjadi salah satu fase erupsi terbesarnya. Hampir sama dengan letusan pada 7 Juli 2025. Namun, durasinya lebih panjang.

Mencapai 14 menit 5 detik. Akibatnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, segera mengadakan Rapat Koordinasi Penanganan Darurat. Rapat ini digelar Sabtu pagi.

Suharyanto tak main-main. Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Flores Timur. Memastikan tidak ada lagi penduduk di kawasan rawan bencana (KRB). "Tolong Bupati Flores Timur ingatkan lagi kepada warga," ujar Suharyanto, suaranya tegas.

"Gunung ini sudah meletus terus. Sudah tidak aman. Semua warga harus keluar dari wilayah KRB." Meskipun tak ada korban jiwa dalam erupsi terakhir, masih ada warga Desa Boru yang membandel. Enggan meninggalkan kampung mereka.

Penanganan pasca-erupsi terus dikebut. Pembangunan hunian sementara (huntara) tahap III terus berlangsung. Dari 100 kopel yang direncanakan, 68 di antaranya sudah terbangun.

Huntara ini disiapkan untuk warga terdampak. Ditargetkan selesai pertengahan Agustus 2025. Sehingga, warga yang kini tinggal di tenda pengungsian dapat pindah. Menghuni tempat yang lebih layak.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hadi Wijaya, turut angkat bicara. Gunung ini, katanya, masih berpotensi meletus kembali. Erupsi terjadi lebih cepat dari perkiraan.

"Sebelumnya, erupsi diperkirakan terjadi 4 jam setelah tanda kegempaan," jelas Hadi. "Tapi pada Jumat malam lalu, hanya butuh dua jam." Sebuah fakta yang mengejutkan. Bahaya yang mengintai mencakup sebaran abu vulkanik, lontaran material hingga 4 kilometer, dan banjir lahar dingin.

Abu vulkanik jadi momok baru. Sebaran debu mencapai 45 ribu kaki. Meliputi berbagai wilayah. Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, hingga Pulau Lembata dan Kupang. Kondisi cuaca yang sedang kering memperparah situasi. Sebaran abu juga menggangu penerbangan. Otoritas Bandara Frans Seda di Maumere terpaksa menutup bandara.

Ini demi keselamatan. Penutupan berlangsung hingga 3 Agustus. Rencana modifikasi cuaca akan dilakukan. Kolaborasi dengan BMKG. Diharapkan bisa menekan penyebaran abu.

BNPB pun mengimbau keras. Agar masyarakat tetap tenang. Tidak melakukan aktivitas dalam radius 6 km. Atau 7 km di sektoral Barat Daya - Timur laut. Warga diminta menggunakan masker saat di luar rumah. Guna menghindari bahaya pada sistem pernafasan. Mereka juga diimbau tidak mudah percaya isu yang tidak jelas sumbernya. Tidak perlu khawatir tentang ancaman tsunami. Aktivitas vulkanik bukan di dasar laut.

Baca Juga: Benang Kusut Tambang Parimo, Dishut Sulteng Ingatkan Ancaman Vonis Hukum dan Bencana Ekologis

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini