Sulawesitoday - Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo menembak langsung polemik film animasi Merah Putih: One For All. Bukan hanya soal kualitas visual yang viral, Hanung mempertanyakan dua hal vital: logika bujet produksi dan jadwal tayang film yang ia nilai janggal. Ini bukan sekadar kritik, tapi sebuah alarm di tengah hiruk pikuk industri film lokal.
Perkara bujet, sang sutradara tak bisa menahan diri. Ia melihat angka Rp6,7 miliar yang disebut produser Toto Soegriwo, jumlah yang jauh dari kata ideal. Dalam unggahannya di media sosial, Hanung menyentil,
"Budget 7M untuk Film Animasi, potong pajak 13 persen kisaran 6M, sekalipun tidak dikorupsi, hasilnya tetap jelek!!". Sebuah pernyataan telak yang mengibaratkan proyek ini seperti membangun rumah. "Belom dipelur semen dan lantainya masih cor-coran kasar," katanya.
Bagi Hanung, sebuah film animasi yang layak membutuhkan biaya jauh lebih besar. Minimal, dana yang digelontorkan harus mencapai Rp30-40 miliar, di luar ongkos promosi. Dan itu pun butuh waktu pengerjaan 4-5 tahun.
Angka ini ia paparkan berdasarkan pengalaman lebih dari dua dekade berkecimpung di industri. Menurutnya, bujet sebesar Rp6M hanya cukup untuk tahap Previs, yaitu kumpulan storyboard yang masih kasar.
Kemudian, ada keanehan lain yang membuat Hanung risau. Bukan soal dana, melainkan jadwal tayang yang terkesan dipaksakan. Film animasi Merah Putih: One For All tiba-tiba bisa melenggang ke bioskop pada 14 Agustus mendatang.
"Ironisnya kok bisa dapat tanggal tayang, di tengah 200 judul film Indonesia, ngantre tayang?" tulis Hanung kesal. Pertanyaan itu menggantung, seolah mengisyaratkan adanya "tangan-tangan" tak terlihat yang memuluskan jalan film ini.
Hanung tidak berhenti sampai disitu. Ia ikut menandai Menteri dan Wakil Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon dan Giring Ganesha, dalam unggahannya. Sineas kawakan itu ingin para pejabat tahu bahwa ada etika industri yang tengah dipertaruhkan.
Ia khawatir, jika hal ini dibiarkan, akan ada preseden buruk untuk sineas lain. Sesuai janjinya, Hanung menyampaikan semua ini dengan nada yang menusuk, tetapi penuh rasa empati, seakan ia sedang membela kreasi dan profesionalisme.
Baca Juga: Kunjungan Balasan Presiden Peru Disambut Prabowo di Istana, 3 Ribu Siswa Jadi Bagian Sejarah
Artikel Terkait
Belajar dari Pemakzulan Fadli Hasan, Skenario Pemberhentian Wabup Parigi Moutong Abdul Sahid Bisa Terulang
Viral Biaya Royalti Musik di Struk Makan, Kafe dan Restoran Resah Kehilangan Konsumen
Momen Hangat Prabowo Rapikan Baret Cak Imin dan Sultan Najamudin, Gestur Persatuan di Upacara Gelar Pasukan TNI
Lompatan Besar Sulawesi Tengah, Bandara Mutiara Sis Al Jufri Kini Jadi Pintu Internasional
Kunjungan Balasan Presiden Peru Disambut Prabowo di Istana, 3 Ribu Siswa Jadi Bagian Sejarah