• Senin, 20 Juli 2026

Gempa Poso Memakan Korban, Kepala BNPB Soroti Bangunan Rentan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 09:26 WIB
Poso kembali berduka. Setelah gempa M 5.8, dua korban meninggal dunia. Kepala BNPB soroti penguatan struktur bangunan sebagai kunci selamatkan nyawa.
Poso kembali berduka. Setelah gempa M 5.8, dua korban meninggal dunia. Kepala BNPB soroti penguatan struktur bangunan sebagai kunci selamatkan nyawa.

Sulawesitoday - Poso kembali berduka. Dua nyawa melayang setelah gempa M 5.8 mengguncang wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (17/8) lalu. Bencana yang datang bagai palu godam alam ini tak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga merenggut dua jemaat yang sedang khusyuk beribadah. Duka yang mendalam itu menarik perhatian Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, yang segera melesat ke lokasi. Pesannya lugas: perkuat struktur bangunan dan ketahanan rumah mutlak harus dilakukan.

Setibanya di Poso, Suharyanto langsung meninjau kerusakan. Ia mengunjungi SDN 01 Tangkura, Poso Pesisir Selatan. Plafon jatuh menimpa bangku dan meja. Ruang kelas yang harusnya penuh tawa itu kini kosong, sunyi. Kegiatan belajar mengajar dihentikan, demi keamanan.

Pemandangan pilu itu lantas berlanjut. Suharyanto menyempatkan diri berdialog dengan warga terdampak. Ia duduk bersama mereka di Kantor Desa Tangkura. Raut wajah cemas dan pilu terpancar di setiap pasang mata. Mereka mengeluhkan kondisi rumah yang hancur. Suharyanto mendengarkan dengan penuh empati. Kehadirannya seolah menjadi oase di tengah gersangnya harapan. "Terima kasih," kata seorang warga, "kehadiran Bapak membawa semangat bagi kami."

Suharyanto mengangguk. Ia berpesan kepada mereka. "Mohon bapak/ibu semua dapat mengecek kondisi rumah pascagempa," ujarnya, tegas namun lembut. "Apakah masih layak huni atau tidak. Upaya penguatan struktur bangunan kiranya dapat dilakukan untuk menjadikan rumah yang lebih tahan gempa."

Memang, Desa Tangkura adalah lokasi yang paling terdampak. Kaji cepat sementara mencatat, 49 rumah rusak berat. Ada 34 rumah rusak ringan. Tiga rumah ibadah dan satu sekolah juga terdampak. Data itu seakan menjadi angka-angka tanpa cerita. Tapi, dibalik itu ada kisah pilu seperti yang dialami Daeng Memang, wanita paruh baya dari Desa Towu. Ia terluka akibat runtuhan batako. Tembok rumahnya belum diplester. Kerangka atapnya hanya dari kayu tanpa plafon. "Sejak kejadian, saya selalu takut gempa susulan," katanya.

Suharyanto juga akan memerintahkan tim gabungan untuk melakukan asesmen. Sasaran utama mereka adalah rumah-rumah ibadah. Jika dinilai rentan, kegiatan ibadah di dalamnya disarankan untuk tidak dilakukan sementara waktu. Ini demi menjaga keselamatan jemaat.

"Pemerintah daerah dimohon segera mendata rumah-rumah rusak," tambah Suharyanto. "BNPB akan memberikan bantuan stimulan sesuai kategori kerusakan." Nilainya tidak main-main. Untuk rumah rusak ringan, bantuannya Rp 15 juta. Rusak sedang Rp 30 juta. Dan untuk yang rusak berat mencapai Rp 60 juta.

Suharyanto menekankan, penguatan struktur bangunan di Poso harus diperkuat. Ia mencontohkan, bangunan Gereja Jemaat Elim Masani yang masih dalam rekonstruksi sebaiknya tak digunakan dulu. Guncangan gempa dapat menimbulkan kerusakan yang masif bila kondisinya belum rampung. Begitu juga rumah-rumah yang masih dibangun dengan bahan seadanya.

Bencana ini juga menyoroti satu fakta. Runtuhnya bangunan dan jatuhnya korban seringkali berasal dari rumah yang tak memenuhi kaidah tahan gempa. Ini pemantik kuat. Membangun rumah bukan cuma soal tempat tinggal. Ini juga soal keselamatan.

Respons cepat pemerintah daerah juga patut dicatat. Bupati Poso Verna G.M. Inkiriwang telah menetapkan status tanggap darurat. Durasi 24 hari, mulai 18 hingga 31 Agustus 2025. Ia juga mempertimbangkan masukan BNPB. Salah satunya melapisi dinding dengan kawat anyam. Sebuah langkah nyata.

Usai peninjauan, Suharyanto memimpin rapat koordinasi penanganan darurat. BNPB juga memberikan bantuan logistik. Sembako, hygiene kit, selimut, matras, tenda, dan makanan siap saji. Semua disiapkan untuk meringankan beban masyarakat. Pemerintah daerah dan BNPB terus berkoordinasi. Pesan terakhir mereka kepada warga sederhana: tetap tenang dan ikuti informasi resmi.

Baca Juga: Tunjangan Rumah DPR Rp 50 Juta Dinilai Setara Gaji 36.000 Guru Per Tahun

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini