Sulawesitoday - Dua mayat ditemukan pagi itu. Satu manusia, satu reptil. Keduanya sama-sama tewas dalam pertarungan yang tak ada pemenangnya. Senin pagi, 6 Oktober 2025, warga Kampung Cipetir dikejutkan penemuan jasad seorang petani tua bernama Ocang tergeletak di jalan setapak. Tak jauh darinya, seekor king cobra sepanjang empat meter sudah tak bernyawa dengan kepala tertancap tongkat kayu.
Erwanto, penyadap karet yang menemukan jasad korban sekitar pukul 06.00 WIB, langsung melaporkan ke aparat setempat. Kanit Reskrim Polsek Sagaranten, Aiptu Yadi Supriyadi, mengonfirmasi kejadian tragis tersebut terjadi di wilayah Desa Cidadap, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi.
"Benar telah terjadi korban jiwa akibat patukan ular kobra," ujar Yadi dalam keterangan resminya. Lokasi kejadian berada di RT 08/RW 03, kawasan yang berbatasan langsung dengan kebun karet dan hutan lebat.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan detail mengejutkan. Korban mengalami luka gigitan di sela-sela jempol kaki kanan. "Kaki korban berwarna lebam kebiru-biruan," ungkap Yadi menjelaskan efek racun yang menjalar cepat. Bisa ular king cobra, salah satu yang paling mematikan di dunia, bekerja dalam hitungan menit.
-
Bagaimana Duel Maut Itu Terjadi?
Staf Desa Cidadap, Ade Pici, memberikan gambaran kronologis berdasarkan jejak di lokasi. Perabot rumah korban ditemukan berantakan. Di dekat dapur, bekas geseran keras di tanah menunjukkan perlawanan sengit. "Diduga kuat korban berupaya melawan ular tersebut menggunakan sebilah parang dan sebuah tongkat kayu," jelas Ade.
Camat Cidadap, Azwar Fauzi, menambahkan detail penting. "Artinya, korban berhasil membunuh ular itu," tutur Azwar mengutip laporan P2BK. Namun kemenangan itu datang terlambat. Bisa sudah terlanjur menjalar di tubuh petani malang tersebut.
Skenario yang paling mungkin: ular masuk ke area rumah korban. Ocang yang menyadarinya berusaha mengusir. Pertarungan pecah. Ular menyerang, mematuk kaki kanan. Korban membalas dengan parang dan tongkat. Dalam kondisi terluka, ia berhasil menancapkan tongkat ke kepala sang predator.
Tapi kemenangan itu pahit. Racun bekerja lebih cepat dari harapan.
-
Mengapa Korban Tidak Terselamatkan?
Setelah dipatuk, Ocang sempat berusaha keluar rumah. Ia mencari pertolongan. Langkahnya sempoyongan. Racun neurotoksik dari king cobra menyerang sistem saraf pusat dengan cepat. Dalam radius 200 meter dari rumahnya, tubuh korban akhirnya menyerah.
"Diduga korban tidak kuat lagi menahan bisa ular di tengah perjalanan," kata Ade menjelaskan temuan di lapangan. Ocang tersungkur sendirian di jalan setapak. Tak ada yang mendengar jeritan terakhirnya. Malam di kampung itu terlalu sunyi untuk pertolongan.
Yadi menegaskan hasil pemeriksaan. "Tidak ada tanda kekerasan lain selain akibat serangan ular berbisa," jelasnya memastikan tidak ada unsur kriminal. Ini murni duel antara manusia dan alam yang berakhir tragis untuk keduanya.
-
Apa Respons Keluarga Korban?
Keluarga Ocang menolak autopsi. Mereka menerima kematian ini sebagai takdir. "Keluarga korban menerima atas kejadian tersebut adalah suatu musibah dan takdir dari Allah SWT," ujar Yadi. Jenazah langsung disemayamkan di pemakaman umum setempat pada hari yang sama.
Tidak ada tangisan histeris. Tidak ada tuntutan. Hanya penerimaan yang tulus atas kehendak Ilahi. Masyarakat Kampung Cipetir, yang terbiasa hidup berdampingan dengan alam liar, memahami risiko itu sejak lama.
Azwar menjelaskan konteks geografis wilayah tersebut. "Cidadap memang berdekatan dengan area hutan dan kebun karet yang menjadi habitat alami berbagai jenis ular," katanya. King cobra, sebagai predator puncak di ekosistem lokal, kerap berkeliaran mencari mangsa tikus dan ular lain.
Artikel Terkait
18 Gubernur Desak Pusat Tanggung Gaji ASN di Tengah Krisis TKD
Alfres Tonggiroh Desak Transparansi: Usulan Tambang 355 Ribu Hektare di Parimo Tanpa Koordinasi DPRD
Satu Hari 332 Rumah Porak-Poranda, Puting Beliung Terjang Gowa
Rapat Tegang DPRD Parimo, Sayutin Budianto: Data WPR Via WhatsApp Tak Valid, Bupati Harus Tarik Surat Pengusulan Segera
Drama 53 Titik Tambang Rakyat Parigi Moutong, Fraksi DPRD Tuntut Bupati Minta Maaf Atas Kebijakan Sepihak