• Selasa, 21 Juli 2026

Satu Hari 332 Rumah Porak-Poranda, Puting Beliung Terjang Gowa

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Rabu, 8 Oktober 2025 | 20:46 WIB
Angin puting beliung terjang Gowa 7-8 Oktober 2025. Sebanyak 332 rumah rusak di tiga kecamatan. Bontomarannu terparah dengan 170 KK korban.
Angin puting beliung terjang Gowa 7-8 Oktober 2025. Sebanyak 332 rumah rusak di tiga kecamatan. Bontomarannu terparah dengan 170 KK korban.

Sulawesitoday - Angin berputar ganas. Atap beterbangan seperti kertas. Dalam sekejap, ratusan keluarga kehilangan tempat berlindung. Bencana angin puting beliung menyapu tiga kecamatan di Gowa pada 7-8 Oktober 2025, meninggalkan jejak kehancuran yang mengoyak hati.

Angka 332 bukan sekadar statistik. Itu adalah 332 keluarga yang kini tidur di bawah terpal darurat. Bontomarannu, Bajeng, dan Pallangga menjadi saksi bisu bagaimana alam memamerkan kekuasaannya dalam hitungan jam. Hujan lebat menyertai. Angin mengaum dengan kecepatan mengerikan. Hasilnya? Puing-puing berserakan di mana-mana.

Kecamatan Bontomarannu mencatat kerusakan terparah. Sekitar 170 kepala keluarga langsung terdampak. Dusun Borongrappo di Desa Sokkolia menjadi episentrum kehancuran. Warga yang pagi harinya bersiap beraktivitas, sore hari sudah kehilangan rumah mereka. Ironis memang. Cuaca yang semula hanya mendung berubah menjadi malapetaka dalam sekejap.

  • Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Puting beliung datang tanpa aba-aba. Tanggal 7 Oktober, langit mulai menghitam. Awan tebal menggumpal. Petir menyambar sporadis. Kemudian, angin berputar muncul dari kejauhan seperti pilar raksasa menghubungkan langit dan bumi.

Fenomena ini berlangsung singkat. Mungkin hanya 15-20 menit. Tapi dampaknya luar biasa. Rumah-rumah warga yang sebagian besar berstruktur sederhana tak mampu menahan terjangan. Genteng beterbangan. Tembok retak. Pohon-pohon besar tumbang menimpa bangunan.

Saksi mata menceritakan detik-detik mencekam. "Suara anginnya seperti kereta api," ujar salah satu warga Bontomarannu yang enggan disebutkan namanya. "Kami hanya bisa berdoa dan berlindung."

Keesokan harinya, 8 Oktober, puting beliung kembali muncul. Kali ini menyasar wilayah yang berbeda di ketiga kecamatan tersebut. Seolah-olah alam belum puas dengan kehancuran sehari sebelumnya. Total kerusakan pun bertambah drastis dalam dua hari beruntun.

  • Bagaimana Respons Pemerintah Setempat?

Pemerintah Kabupaten Gowa bergerak cepat. Tak ada waktu untuk berdebat birokrasi. Bupati beserta jajarannya langsung turun ke lokasi. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana warga kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.

Bantuan darurat segera disalurkan. Terpal untuk penutup atap. Bahan makanan pokok. Pakaian layak pakai. Semuanya didistribusikan dengan sistem koordinasi yang rapi. Prioritas utama: memastikan tidak ada korban kelaparan atau kehujanan malam itu juga.

Kodam XIV/Hasanuddin juga tak tinggal diam. Mereka mengirimkan paket sembako untuk meringankan beban warga. TNI dan masyarakat bekerja bahu-membahu. Solidaritas muncul di tengah bencana. Ada yang menyediakan dapur umum. Ada yang membuka rumahnya untuk penampungan sementara.

Namun pertanyaan tetap menggantung: apakah bantuan ini cukup? Kerusakan 332 rumah bukan perkara remeh. Butuh dana besar untuk rekonstruksi. Pemerintah pusat diharapkan turun tangan lebih jauh. Warga hanya bisa berharap bantuan jangka panjang akan datang.

  • Mengapa Fenomena Ini Bisa Terjadi?

Puting beliung bukan sihir. Ada sains di baliknya. Fenomena ini lahir dari pertemuan dramatis antara udara panas dan dingin. Bayangkan dua kekuatan bertolak belakang bertemu dalam satu titik. Hasilnya? Pusaran angin destruktif.

Prosesnya dimulai dari pemanasan permukaan. Udara panas naik cepat ke atmosfer. Di atas, udara dingin menunggu dengan tekanan berbeda. Ketika keduanya bertemu, terjadi gaya gesek. Putaran mulai terbentuk. Semakin besar perbedaan suhu, semakin kuat pusarannya.

Awan cumulonimbus menjadi indikator utama. Awan raksasa berwarna gelap ini adalah tanda kondisi atmosfer sangat tidak stabil. Di dalamnya, arus udara naik-turun dengan kecepatan tinggi. Petir menyambar-nyambar. Hujan deras mengguyur. Dan jika kondisi sempurna, puting beliung pun terlahir.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini