• Kamis, 4 Juni 2026

Kucuran Rp200 Triliun ke Bank Himbara Nyaris Habis, Menkeu Purbaya Siap Gelontorkan Dana Lagi

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 20:56 WIB
Dana Rp200 triliun nyaris habis terserap bank Himbara. Bank Mandiri minta tambahan. Menkeu Purbaya buka akses untuk Kopdes.
Dana Rp200 triliun nyaris habis terserap bank Himbara. Bank Mandiri minta tambahan. Menkeu Purbaya buka akses untuk Kopdes.

Mengenai tambahan persiapan dana Rp16 triliun, Purbaya mengatakan akan menunggu sampai Rp200 triliun terserap sepenuhnya. "Nanti kalau kurang bisa ditambah lagi, sudah ada Rp16 triliun disiapkan di APBN dan uangnya sudah siap," ucapnya.

Purbaya juga sudah menandatangani aturan terkait kopdes. "Kemarin saya sudah tanda tangani surat pernyataan dari Menteri Keuangan bahwa program itu dijamin dan desa yang dikelola Menteri Keuangan di sini," sambungnya.

Dengan surat jaminan tersebut, koperasi bisa langsung meminjam dana. Bank akan menyalurkan tanpa hambatan birokratis yang berbelit. "Dengan surat itu, koperasi bisa langsung pinjam dana koperasi dan program bisa langsung pinjam ke bank dan bank akan langsung menyalurkan, itu yang diminta Danantara. Udah clear," tuturnya.

  • Apa Saja Persyaratan untuk Mengajukan Pinjaman?

Tak ada makan siang gratis. Untuk mengakses dana, koperasi wajib memenuhi persyaratan ketat. Proposal bisnis menjadi syarat utama. Proposal harus disesuaikan dengan jenis usaha yang dijalakan.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengungkapkan pada 15 September 2025 bahwa 16 ribu Koperasi Merah Putih sudah mengajukan proposal bisnis. "Sebanyak 16 ribu Koperasi Merah Putih sudah mengajukan proposal bisnis ke perbankan sebagai syarat mengajukan pinjaman," kata Menkop Ferry.

Pengawasan dana juga diperketat. Tim pengawas disiapkan dari kepala desa dan anggota koperasi. Kementerian Koperasi turun tangan menyediakan asisten bisnis yang bertanggung jawab untuk 10 koperasi sekaligus.

Project management officer juga disiapkan untuk membantu pendampingan. Sistem digital untuk pemantauan usaha akan diterapkan kepada koperasi. Monitoring berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan dana digunakan secara produktif.

Pengawasan berlapis ini penting. Terlalu banyak kasus di masa lalu dimana dana bantuan pemerintah menguap tanpa bekas. Kali ini, pemerintah tampak belajar dari kesalahan masa lalu.

  • Antara Harapan dan Kewaspadaan

Penyerapan cepat dana Rp200 triliun membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, ini menunjukkan antusiasme pelaku usaha. Kebutuhan modal kerja memang riil. 

Di sisi lain, pertanyaan besar menggantung: apakah sistem pengawasan cukup kuat untuk mencegah penyalahgunaan? Apakah kopdes benar-benar siap mengelola dana dengan profesional?

Purbaya terlihat optimistis. Pemerintah bahkan sudah menyiapkan dana tambahan Rp16 triliun jika diperlukan. Komitmen ini patut diapresiasi. Namun kewaspadaan tetap diperlukan.

Retail sales yang mulai naik memberi harapan. Ekonomi mungkin memang mulai bergeliat. Namun perjalanan masih panjang. Evaluasi berkala dan transparansi data menjadi kunci keberhasilan program ambisius ini.

Yang jelas, ribuan pelaku usaha kecil kini memiliki kesempatan baru. Dana Rp200 triliun bukan sekadar angka. Ia adalah harapan. Harapan untuk bangkit. Harapan untuk mandiri secara ekonomi.

Pertanyaannya kini: akankah harapan itu benar-benar terwujud? Atau hanya akan menjadi mimpi di siang bolong yang sirna begitu matahari terbenam? Waktu yang akan menjawab. Sementara itu, mesin ekonomi terus berputar. Dana terus mengalir. Dan harapan tetap menyala.

Baca Juga: Menkeu Buka Keran Pinjaman Kopdes Merah Putih ke Bank Himbara, Bunga Cuma 2 Persen

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini