• Kamis, 4 Juni 2026

Trauma Psikologis Siswa SMAN 72 Jakarta Jadi Perhatian Serius, Medsos Diduga Jadi Pemicu

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 8 November 2025 | 10:01 WIB
Ledakan SMAN 72 Jakarta lukai 54 siswa. Trauma psikologis jadi perhatian. DPR soroti pengaruh medsos. Pelaku remaja 17 tahun
Ledakan SMAN 72 Jakarta lukai 54 siswa. Trauma psikologis jadi perhatian. DPR soroti pengaruh medsos. Pelaku remaja 17 tahun

KPAI bersama pihak sekolah berkoordinasi intensif. Psikolog anak disiapkan. Pendampingan khusus akan diberikan setelah kondisi medis stabil. Proses pemulihan mental sama pentingnya dengan penyembuhan fisik.

Namun pertanyaan menggantung: berapa lama trauma ini akan berlangsung? Akankah mereka bisa kembali normal? Jawaban hanya waktu yang bisa memberikan.

Siapa Pelaku di Balik Ledakan Ini?

Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, turut menjenguk korban. Informasi yang ia peroleh cukup mengejutkan. Pelaku adalah remaja berusia 17 tahun. Ia juga menjadi korban ledakannya sendiri.

"Saya mendapatkan informasi masih di dalam operasi," kata Dasco kepada wartawan di Jakarta, Jumat kemarin. Ia mengonfirmasi pelaku tengah menjalani operasi.

Ketika wartawan menanyakan usia pelaku, Dasco menjawab singkat: "17 tahun."

Namun identitas lengkap masih dirahasiakan. Apakah ia siswa sekolah tersebut? Atau orang luar? Dasco enggan memastikan. "Nanti soal ini biar pihak kepolisian yang menyampaikan ke media," ujarnya bijak.

Yang jelas, seorang remaja 17 tahun kini terbaring di meja operasi. Mimpi apa yang ada di kepalanya? Apa yang mendorongnya membawa bahan berbahaya? Pertanyaan ini menjadi fokus investigasi kepolisian.

Polisi bekerja cermat mengumpulkan bukti. Setiap jejak digital ditelusuri. Riwayat pencarian internet diperiksa. Media sosial menjadi salah satu kunci investigasi.

Benarkah Medsos Mempengaruhi Tindakan Pelaku?

Dasco memberi peringatan keras kepada pihak sekolah. Pengawasan terhadap aktivitas siswa harus diperketat. Terutama penggunaan gawai dan media sosial.

"Ya kita imbau kepada sekolah-sekolah untuk menerapkan asas kehati-hatian, terutama kepada para murid," terang Wakil Ketua DPR ini. Nadanya tegas namun penuh perhatian.

"Jangan melihat-lihat gadget ya, itu antara lain mungkin tadi karena pengaruh yang dilihat di media-media sosial," tambah Dasco. Ia menyoroti bahaya konten berbahaya di internet.

Pernyataan ini mengundang refleksi mendalam. Di era digital, anak-anak terpapar berbagai konten. Tutorial membuat bahan peledak tersebar bebas. Video eksperimen kimia berbahaya mudah diakses. Algoritma media sosial terkadang merekomendasikan konten ekstrem.

Tanggung jawab siapa ini sebenarnya? Platform media sosial? Orang tua? Sekolah? Atau pemerintah? Jawabannya mungkin semua pihak.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini