• Selasa, 21 Juli 2026

Horor Banjir Bandang Penakir, Saat Batu Gunung Slamet Hantam Rumah dan Putuskan Jembatan

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 25 Januari 2026 | 12:18 WIB
Banjir bandang menerjang Desa Penakir, Pemalang pada 23 Januari 2026. Material lumpur, kayu, dan batu dari Gunung Slamet hancurkan rumah warga. Ribuan orang kini butuh bantuan darurat.
Banjir bandang menerjang Desa Penakir, Pemalang pada 23 Januari 2026. Material lumpur, kayu, dan batu dari Gunung Slamet hancurkan rumah warga. Ribuan orang kini butuh bantuan darurat.

Sulawesitoday - Gunung Slamet lagi punya hajat. Tapi hajatnya kali ini membawa duka. Jumat malam lalu, 23 Januari 2026, air tidak sekadar lewat. Ia membawa "oleh-oleh" dari hulu: batu besar, gelondongan kayu, dan lumpur pekat.

Sasarannya: Desa Penakir. Di Kecamatan Pulosari, Pemalang.

Lihat videonya di Instagram @pemalang.update. Suara si perekam bergetar. "Mengabarkan dari Penakir, Sarangan, full lumpur. Astaghfirullah," katanya.

Kalimat itu pendek. Tapi menggambarkan horor yang panjang.

Bayangkan. Dusun Sawangan, Sarangan, hingga Sigeblog yang biasanya tenang, mendadak jadi muara material gunung. Jembatan putus. Jalanan hilang, berganti hamparan kayu dan batu-batu raksasa.

Ada enam rumah yang hancur dihantam batu. Bukan batu sembarang batu. Ini batu dari atas gunung yang meluncur mengikuti derasnya air. Kalau batu sebesar itu sudah ikut turun, berarti tenaga airnya luar biasa dahsyat.

Agus, Kepala Desa Penakir, sibuk bukan main. Ia harus memastikan warganya selamat. Data terakhir, pengungsi berceceran di banyak titik. Ada 400 orang di kantor kecamatan. Ada 600-an orang di SD Penakir 2. Belum lagi yang di gedung NU dan posko-posko mandiri.

Totalnya ribuan.

"Kami butuh logistik. Obat-obatan. Alas tidur. Selimut," ujar Agus. Ia juga menyebut satu hal yang krusial: kebutuhan bayi dan balita. Di tengah bencana, kelompok inilah yang paling rentan.

Duka ini kian lengkap dengan kabar satu warga Dusun Wanasari meninggal dunia. Seorang laki-laki. Alam memang sulit ditebak, tapi banjir bandang selalu punya pola yang sama: kiriman dari atas yang tak tertampung di bawah.

Kini, Pusdalops BPBD Pemalang mengeluarkan peringatan keras. Jangan beraktivitas di sepanjang sungai. Sederhana, tapi vital. Karena di hulu Gunung Slamet, hujan masih betah mengguyur. Debit air bisa naik kapan saja.

Banjir bandang itu seperti tamu tak diundang. Ia datang tiba-tiba, merusak, lalu pergi meninggalkan lumpur yang tingginya bisa semata kaki—atau bahkan sedada.

Tugas kita sekarang: jangan biarkan warga Penakir sendirian membersihkan lumpur itu.

Baca Juga: Ambulans Dari Morowali Dipaksa Putar Balik Usai Jalan Trans Sulawesi Luwu Dicor Massa

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini