• Rabu, 22 Juli 2026

Sri Mulyani dan Epstein Files, Fakta di Balik Fitnah Digital yang Mengguncang Ekonomi

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Selasa, 3 Februari 2026 | 16:05 WIB
Ungkap kebenaran kasus Sri Mulyani: Dari hoaks Epstein Files akibat kesalahan tata letak hingga fitnah deepfake guru yang memicu gejolak pasar dan pergantian kabinet.
Ungkap kebenaran kasus Sri Mulyani: Dari hoaks Epstein Files akibat kesalahan tata letak hingga fitnah deepfake guru yang memicu gejolak pasar dan pergantian kabinet.

Sulawesitoday - Ini soal nasib. Dan soal bagaimana jempol manusia modern begitu cepat memvonis. Korbannya tidak main-main: Sri Mulyani Indrawati. Sang "Wanita Besi".

Namanya sempat "hancur" gara-gara satu kata yang kini jadi hantu baru di dunia informasi: Digital Adjacency. Alias, "Kedekatan Digital".

Ceritanya begini. Pada 18 Maret 2025, situs berita The Straits Times memuat berita tentang bantahan bahwa Sri Mulyani akan mundur. Biasa saja. Tapi, di kolom "Top Stories" di sampingnya, muncul judul lain: "Dokumen Jeffrey Epstein Segera Rilis".

Hanya karena dua judul itu berdekatan dalam satu layar ponsel, orang langsung menghubung-hubungkannya.

Lalu, tangan-tangan jahil mulai bekerja. Di- screenshot. Disebarkan di media sosial. Narasinya berubah menjadi: Sri Mulyani mundur karena namanya terseret skandal pedofil internasional Jeffrey Epstein.

Gila. Benar-benar gila.

Padahal, faktanya terang benderang. Setelah Departemen Kehakiman Amerika (DOJ) merilis 3 juta halaman dokumen pada Januari 2026, nama Sri Mulyani sama sekali tidak ada. Tidak ada di daftar penerbangan Lolita Express. Tidak ada di email. Tidak ada di catatan telepon. Nihil.

Tapi, hoaks itu telanjur jadi "bensin" yang menyulut api di dalam negeri.

Waktu itu, publik memang lagi sensitif. Ada skandal pajak Rp 300 triliun (US$ 20 miliar) yang sedang digali. Meskipun Sri Mulyani tidak terlibat langsung, publik sudah telanjur emosi. Begitu isu Epstein muncul, narasi jahat langsung menggorengnya: "Ooo, ini toh alasan kenapa uang itu hilang."

Efeknya ngeri. Pasar modal kita "pingsan". Indeks saham anjlok 7,1 persen dalam sehari di Maret 2025. Itu penurunan terdalam sejak tahun 2011. Investor asing lari tunggang langgang karena takut ekonomi kita goyang.

Belum cukup di situ. Muncul lagi serangan teknologi tingkat tinggi: Deepfake. Wajahnya asli, suaranya mirip, tapi isinya palsu. Di video itu, Sri Mulyani seolah-olah menyebut "guru adalah beban negara".

Para guru marah. Publik dihujat warganet. Padahal, aslinya ia sedang bicara soal tantangan anggaran untuk menggaji guru di ITB. Tapi, siapa yang mau cek fakta di tengah emosi yang membara?

Akhirnya, sang Wanita Besi harus menepi. Pada September 2025, ia resmi diganti oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Ia pergi di tengah gelombang protes dan pasar yang sedang meluluhlantak.

Baru di awal 2026, kebenaran terungkap lewat rilis resmi dokumen di Amerika. Namanya bersih sesuci embun pagi.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini