Sulawesitoday - Malam itu, Desa Avolua di Parigi Moutong tidak bisa tidur nyenyak. Pukul 22.00 WITA. Harusnya waktu istirahat. Tapi api muncul dari kegelapan hutan.
Luasnya tak main-main: 20 hektare. Hutan dan lahan di Kecamatan Siniu itu mendadak berubah warna menjadi merah bara. Hingga Senin pagi, 2 Februari 2026, pertempuran melawan si jago merah belum usai.
Tim gabungan turun semua. Ada BPBD, Pemadam Kebakaran, TNI, hingga Polisi. Masyarakat pun tidak tinggal diam membantu. Dua unit mobil pemadam dikerahkan. Di pinggir jalan yang mudah dijangkau, api bisa ditaklukkan. Tapi di atas gunung? Lain cerita.
Medan terjal menjadi benteng bagi api. Teknologi mesin pemadam tak bisa memanjat ke sana. Peralatan pun terbatas.
"Pemadaman di bagian atas gunung hanya bisa dilakukan secara manual, dan saat ini kami masih bersiaga di lokasi kejadian," ujar Plt Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai.
View this post on Instagram
Artinya, petugas harus mendaki. Bertaruh nyawa dengan alat seadanya di bawah ancaman empat titik api yang masih menyala di ketinggian.
Risikonya besar. Rumah warga berada di bawah lereng itu. Banyak pohon dan ranting kering yang siap menjadi sumbu jika api melompat ke bawah. Tiga keluarga sudah diperintahkan mengungsi.
Ada pembagian tugas yang unik di sana. Sebuah kesepakatan demi keselamatan bersama.
"Kesepakatannya, laki-laki tetap berada di rumah, sementara lansia, anak-anak, dan ibu-ibu mengungsi ke rumah keluarganya," jelas Rivai mengenai evakuasi tersebut.
Kini, status siaga ditetapkan. Petugas terus berjaga di titik-titik rawan. Di Avolua, kewaspadaan menjadi satu-satunya cara agar api tidak semakin liar melahap permukiman.
Baca Juga: Gawat! Karhutla Parigi Moutong Tembus 20 Kasus, Sehari Bisa Terjadi 5 Kali Kebakaran
Artikel Terkait
Pemilik Lahan Temukan Minyak Bumi? Prosedur Lapor, Ganti Rugi dan Syarat Kelola
Waspada Penipuan Share Screen WhatsApp! Cara Pakai yang Aman Agar Saldo Tak Dikuras
Nekat Terobos Garis Polisi, Warga Ketol Kocar-kacir Dengar Suara dari Perut Sinkhole
Prabowo Sentil Elite di Rakornas, Jangan Menyerah Lawan Kemiskinan - Kita Ini Kaya!
Gawat! Karhutla Parigi Moutong Tembus 20 Kasus, Sehari Bisa Terjadi 5 Kali Kebakaran