Sulawesitoday - Angka itu mentereng: Rp55,4 triliun. Itulah pagu anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2026. Besar sekali. Cukup untuk membiayai enam program unggulan Menteri Abdul Mu’ti. Mulai dari urusan KKG, digitalisasi, hingga soal akreditasi.
Tapi di sebuah sudut di Kecamatan Linge, Aceh Tengah, angka triliunan itu terasa sangat jauh. Di Desa Reje Payung, pendidikan tidak sedang bicara soal digitalisasi. Pendidikan di sana sedang bicara soal bertahan hidup.
Bencana akhir November 2025 lalu memang sudah lewat tiga bulan. Namun, sisa-sisanya masih menganga. Buku-buku pelajaran hanyut. Rusak. Hilang ditelan air. Sampai Sabtu kemarin, 21 Maret 2026, kondisi itu belum berubah.
Adalah Trisa Triandesa, seorang aktor yang juga relawan, yang berteriak lewat jagat maya. Ia baru saja kembali dari sana. Membawa kabar yang menyesakkan dada.
“Sampai 9 Maret 2026, ketika saya di sana, belum ada buku pelajaran diterima oleh guru dan siswa,” tulisnya di akun Instagram @trisatriandesa.
Bayangkan. Tiga bulan tanpa buku. Anak-anak itu belajar di bawah tenda darurat milik BNPB. Tanpa sekat yang memadai. Kelas satu sampai kelas enam tumplek bleg jadi satu.
Gurunya? Ada Pak Ijal. Sosok yang luar biasa sabar. Ia mengajar semua tingkatan itu sendirian. Dengan segala keterbatasan. Berapa honornya? Rp250.000 per bulan. Angka yang mungkin hanya cukup untuk beli pulsa internet bagi orang kota, tapi di Reje Payung, itu adalah gaji seorang pahlawan.
Trisa tidak sekadar mengeluh. Ia mengetuk pintu kantor di Jakarta. Ia meminta perhatian Kemendikdasmen. Bukan minta proyek besar. Hanya minta kiriman buku pelajaran.
“Kemendikdasmen, izin, boleh tidak tolong dikirimkan buku pelajaran untuk anak-anak di Desa Reje Payung ini? Karena sudah lebih dari tiga bulan mereka tidak belajar,” pintanya dalam unggahan video tersebut.
Bahkan, para relawan sudah pasang badan. Kalau kementerian kesulitan soal distribusi ke pedalaman Aceh, mereka siap membantu. Siap menggendong buku-buku itu sampai ke tangan siswa.
Program menteri memang mulia. Ada penguatan kompetensi guru, ada bimbingan teknis, ada soal akreditasi. Tapi, apa gunanya akreditasi dan digitalisasi jika buku pegangan saja tidak ada? Apa gunanya diskusi soal kualitas soal jika untuk membaca materi saja mereka tak punya medianya?
Reje Payung adalah ujian nyata bagi efektivitas anggaran Rp55,4 triliun itu. Jangan sampai birokrasi lebih lambat dari semangat belajar anak-anak di bawah tenda BNPB.
Logikanya sederhana: ada bencana, buku hilang, kirim yang baru. Sesederhana itu. Harusnya.
Kecanduan Reels dan Shorts Bikin Fokus Ambrol, Siswa Korea Mulai Kesulitan Hadapi Suneung
Artikel Terkait
Lebaran di Majene, Bupati dan Ribuan Jamaah Padati Stadion Prasamya - Pesan Persatuan Menggema
Gema Takbir di Parigi Moutong, Pesan Kedekatan Satu Jengkal dengan Rasulullah
Bukan Cuma Coding! Intip Gaji Fantastis Tukang Listrik & Teknisi di Balik Pabrik Otak AI
Tips HP Anti Lemot untuk Foto Lebaran, 9 Cara Mudah Hapus Sampah Digital di Android
Kecanduan Reels dan Shorts Bikin Fokus Ambrol, Siswa Korea Mulai Kesulitan Hadapi Suneung