Sulawesitoday - Rumitnya birokrasi di sektor kesehatan Kabupaten Parigi Moutong sering kali menjadi penghalang bagi warga dalam mendapatkan pelayanan yang layak. Nizar Rahmatu, calon Bupati Parigi Moutong, menilai bahwa pelayanan kesehatan harusnya bisa lebih sederhana, terutama bagi masyarakat kecil yang sangat membutuhkan.
Menurut Nizar, masalah utama yang dihadapi warga saat ini adalah akses terhadap pelayanan kesehatan yang terkendala oleh prosedur birokrasi yang panjang dan berbelit. Dia dengan tegas menyatakan bahwa, “Jika masalah mendasar seperti kesehatan masih dibuat rumit dalam praktik pelayanannya kepada masyarakat kecil, perlu ada terobosan berani yang dilakukan oleh seorang pemimpin.”
Pernyataan ini tentu bukan hanya sekadar janji kampanye. Nizar menekankan pentingnya keberanian dalam pengambilan keputusan. Ia berjanji untuk memangkas berbagai hambatan birokrasi, khususnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan. "Itu ikrar kami," tegas Nizar dalam sebuah pertemuan di Kecamatan Mepanga.
Program "Bupati Ngantor di Desa"
Salah satu inovasi yang akan dilakukan jika dirinya terpilih adalah program "Bupati Ngantor di Desa" atau dikenal dengan nama Bunga Desa. Program ini bertujuan untuk mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat, terutama yang tinggal di daerah terpencil.
Nizar mengatakan, "Langkah pertama kami akan dimulai dari kecamatan yang terjauh dari ibu kota kabupaten. Wilayah TTM akan menjadi lokasi pertama yang kami kunjungi." Melalui Bunga Desa, ia berharap dapat memahami kondisi riil warga Parigi Moutong secara langsung, tanpa perantara, dan tanpa terhalang oleh birokrasi yang selama ini sering menjadi keluhan utama.
Pendekatan Kultural dan Kebijakan Inklusif
Tidak hanya memotong birokrasi, Nizar juga mengedepankan pendekatan kultural dalam kepemimpinannya. Saat berada di Kotaraya, Nizar berbicara dengan fasih dalam bahasa Jawa di hadapan warga yang sebagian besar berasal dari suku Jawa. Ini menandakan bahwa Nizar tidak asing dengan keberagaman budaya yang ada di wilayah Parigi Moutong.
“Ternyata Nizar pernah bersekolah di Kotaraya pada tahun 80-an,” ungkap seorang warga. Menurut Nizar, “Soal tradisi dan budaya Jawa, saya tidak asing dengan itu.” Hal ini menunjukkan bahwa selain memiliki visi yang kuat dalam membenahi birokrasi, Nizar juga peka terhadap aspek budaya masyarakat setempat.
Dampak Bagi Warga
Jika berhasil memangkas birokrasi, Nizar Rahmatu diprediksi akan membawa angin segar bagi masyarakat Parigi Moutong. Dengan akses yang lebih mudah ke layanan kesehatan dan pendidikan, serta pemerintah yang lebih dekat ke rakyat, warga diharapkan bisa merasakan perubahan yang nyata.
Inisiatif seperti Bunga Desa menandakan bahwa Nizar dan pasangannya, Ardi, memiliki komitmen kuat untuk menciptakan pemerintahan yang inklusif dan proaktif. Hal ini tentunya akan sangat berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil yang sering kali luput dari perhatian.
Artikel Terkait
Kuburan Bangkai Pesawat, Keindahan Suram di Balik Puing-Puing Tragedi
Tato Temporer Alami dari Daun Pakis: Alternatif Menarik untuk Seni Kulit
Rumah Kosong Tersapu Badai, 10 Rusak Parah: Kesaksian Rudi Korban Angin Puting Beliung di Gowa
Speedboat Puskesmas Terbalik di Perairan Obi Diduga Kelebihan Muatan, Empat Luka-Luka
Prabowo Panggil Amran Sulaiman: Tanda Kembalinya Sosok Kunci di Sektor Pertanian?