• Senin, 20 Juli 2026

BMKG Pastikan Tanah Bergerak di Mamuju Tengah Bukan Karena Gempa, Apa Penyebabnya?

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 4 November 2024 | 16:16 WIB
BMKG menyebutkan tanah bergerak di Mamuju Tengah bukan karena gempa, tapi getaran ekskavator di lahan gambut. #Likuifaksi #TanahBergerak #BMKG (Nur Rafiqa)
BMKG menyebutkan tanah bergerak di Mamuju Tengah bukan karena gempa, tapi getaran ekskavator di lahan gambut. #Likuifaksi #TanahBergerak #BMKG (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Fenomena tanah bergerak yang menenggelamkan sebuah ekskavator di Kabupaten Mamuju Tengah telah menimbulkan keresahan di kalangan warga. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memastikan bahwa kejadian ini bukan disebabkan oleh gempa bumi. Sebaliknya, faktor-faktor lain yang terjadi di permukaan tanah dianggap menjadi pemicu utama.

Menurut Kepala Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni, tanah di lokasi tersebut bergerak karena adanya getaran dari alat berat, bukan getaran seismik. "Tidak ada gempa sebelum likuifaksi terjadi," jelas Jamroni.

Baca Juga: Investigasi Polda Sulsel, Dugaan Kredit Fiktif PT TKM Rugikan Negara Rp 60 Miliar: Bank BUMN Terdampak

Dia menduga bahwa keberadaan air tanah yang dangkal di lokasi proyek jalan tersebut, bersama dengan getaran dari ekskavator, memicu proses yang dikenal sebagai likuifaksi. Ketika ekskavator beroperasi, getaran yang dihasilkannya menyebabkan air tanah berubah menjadi cairan dan membuat tanah kehilangan daya dukung.

Likuifaksi adalah peristiwa di mana tanah yang jenuh air kehilangan kekuatan strukturalnya, yang membuatnya menjadi labil dan tidak mampu menopang beban berat di atasnya. Meskipun likuifaksi biasanya dikaitkan dengan gempa bumi, dalam kasus ini, Jamroni memastikan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh faktor-faktor lain, meskipun skalanya cukup kecil.

Baca Juga: Hujan Deras Guyur Makassar, Motor Pengendara Mogok di Tengah Genangan: Waspada Risiko Cuaca Ekstrem

“Kalau sampai air tanah naik, ya itu likuifaksi. Tanah jenuh air tidak kuat menopang beban, itulah yang terjadi di sini," tambah Jamroni.

Insiden ini terjadi di Jalan Desa Saloadak, Kecamatan Tobadak, pada Sabtu (2/11) sekitar pukul 15.30 WITA. Saat kejadian, tim sedang memperbaiki jalan desa tersebut ketika tiba-tiba tanah bergerak dan amblas, menenggelamkan ekskavator ke dalam lumpur. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamuju Tengah, Sigit Dwi Hastono, mengungkapkan bahwa lokasi ini sebenarnya rawan karena sering dilanda banjir, terutama pada musim hujan.

Baca Juga: Manisnya Pose Penyu Bahama di Dasar Laut, Ternyata Ekosistem Ini Sangat Krusial bagi Mereka!

"Banjir berkali-kali menggenangi kampung Rawamakmur dan Saloadak, lokasi itu daerah transmigrasi dengan perkebunan sawit, jadi risiko tinggi," ujar Sigit.

Selain itu, imbas likuifaksi ini telah memutus akses empat desa di sekitar Mamuju Tengah. Syawaluddin, dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Mamuju Tengah, menyebutkan bahwa Desa Sejati, Leling Utara, Leling Induk, dan Leling Barat kini terisolasi. Jalan utama yang menghubungkan desa-desa ini tertimbun material lumpur yang dibawa oleh pergeseran tanah tersebut.

Baca Juga: Bobby Si Kucing Eksis! Penggemar Tak Henti Berkomentar Usai Gigit Presiden Prabowo, Lihat Reaksinya

"Daerah terisolir, hingga ekskavator yang tertimbun," jelas Syawaluddin.

Fenomena ini menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap kondisi geologi setempat, terutama di wilayah-wilayah rawan banjir yang memiliki lapisan tanah gambut dan lahan sawit. Kondisi air tanah yang tinggi, ditambah dengan getaran dari alat berat, bisa menjadi pemicu likuifaksi meskipun tanpa adanya gempa bumi.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini