Sulawesitoday - Banjir besar kembali melanda wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana ini telah memengaruhi kehidupan 1.235 kepala keluarga (KK). Situasi ini diperburuk oleh curah hujan tinggi sejak Kamis malam, 16 Januari 2025.
"Wilayah Kabupaten Banjar masih tergenang banjir hingga tadi malam," jelas Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Ia menambahkan bahwa genangan air telah menyebar ke berbagai kecamatan.
Kecamatan Cintapuri Darussalam menjadi wilayah yang paling terdampak dengan 1.071 KK. Kecamatan lain, seperti Gambut dan Sungai Tabuk, juga melaporkan ratusan keluarga terdampak. Di Kecamatan Astambul, data jumlah korban masih dalam proses pendataan. Selain itu, 45 fasilitas umum, termasuk tempat ibadah, fasilitas pendidikan, dan kantor desa, ikut terkena dampaknya.
Dampak Besar pada Infrastruktur dan Kehidupan Warga
Bencana banjir ini tidak hanya menghantam pemukiman warga, tetapi juga memengaruhi infrastruktur penting di wilayah tersebut. Fasilitas pendidikan dan kesehatan terganggu, yang mengakibatkan akses terhadap layanan dasar menjadi terbatas. Kondisi ini memerlukan perhatian segera dari pihak berwenang.
Tim BPBD setempat saat ini terus melakukan asesmen untuk menentukan langkah-langkah penanganan berikutnya. Belum ada laporan pasti mengenai jumlah warga yang harus mengungsi. Namun, upaya mitigasi terus dikerahkan, termasuk mendistribusikan bantuan logistik dan mendirikan posko darurat di titik-titik strategis.
Baca Juga: Pasar Simpong Memanas, Pedagang dan Penertiban Berujung Ketegangan
Angin Kencang Menambah Luka
Tidak hanya banjir, angin kencang juga sempat melanda wilayah Banjar pada Sabtu, 11 Januari 2025. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan pada 25 rumah di dua desa, yakni Desa Gambut dan Desa Jambu Burung. Kerusakan infrastruktur akibat angin kencang semakin memperparah dampak dari curah hujan tinggi yang terjadi.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Bencana ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim yang makin ekstrem. Salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat adalah memperhatikan informasi prakiraan cuaca secara berkala. Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat memperkuat infrastruktur drainase dan sistem peringatan dini di daerah rawan banjir.
Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko bencana di masa depan. Selain itu, edukasi mengenai langkah-langkah evakuasi darurat bisa menjadi solusi jangka panjang.
Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday
Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.
Artikel Terkait
Harmonisasi Regulasi, Kemenkum Sulteng Evaluasi Rancangan Peraturan di Morowali Utara
Pelayanan Publik dan Aksi Sosial, Wajah Baru Imigrasi pada Perayaan HBI ke-75 di Sulteng
4 Kilogram Sabu Diselundupkan, Dua Sipir dan Napi di Rutan Palangkaraya Berkolaborasi
Pria Mengamuk di RSUD Hajja Andi Depu, Pembatasan Pengunjung Jadi Pemicu Utama?
Pasar Simpong Memanas, Pedagang dan Penertiban Berujung Ketegangan