berita

Ponpes Al Khoziny: 52 Meninggal, 14 Hilang, Gedung Miring Hambat Evakuasi - Ahli ITS Dilibatkan

Senin, 6 Oktober 2025 | 09:59 WIB
Evakuasi Ponpes Al Khoziny menemukan 49 korban tewas. Gedung lama miring jadi kendala. Presiden instruksikan evaluasi nasional ponpes.

"Beliau memonitor terus perkembangannya," imbuh Prasetyo. Perhatian penuh diberikan kepada pondok terdampak. Bantuan medis, logistik, hingga psikososial disalurkan bertahap.

Instruksi presiden bukan sekadar formalitas. Evaluasi nasional ini menjadi momentum krusial. Sistem pengawasan keselamatan lembaga pendidikan keagamaan harus diperkuat. Terlalu banyak ponpes berdiri tanpa standar konstruksi memadai.

Pertanyaannya sederhana namun menohok: berapa banyak lagi ponpes yang berdiri di atas fondasi rapuh? Berapa banyak santri yang belajar di bawah atap yang bisa ambruk kapan saja?

  • Pelajaran Pahit dari Reruntuhan

Tragedi Al Khoziny bukan yang pertama. Indonesia pernah kehilangan anak-anak bangsa dalam insiden serupa. Namun sepertinya, pelajaran itu selalu datang terlambat. Datang setelah nyawa melayang.

Evaluasi yang dijanjikan pemerintah kali ini harus berbeda. Bukan sekadar inspeksi sesaat lalu dilupakan. Standar keselamatan bangunan ponpes harus jadi kewajiban hukum. Sanksi tegas perlu diberlakukan bagi pengelola yang mengabaikan.

Para santri datang ke ponpes untuk menuntut ilmu. Mereka mempercayakan hidup pada institusi pendidikan. Kepercayaan itu tidak boleh dibalas dengan kelalaian. Apalagi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Tim SAR masih berjuang di lapangan. Mereka bekerja siang malam. Setiap detik berharga. Harapan memudar seiring waktu berlalu. Namun mereka tidak menyerah.

Sementara itu, keluarga korban menunggu dengan hati tercabik. Beberapa sudah kehilangan harapan. Yang lain masih berdoa untuk keajaiban. Di antara puing dan debu, doa-doa itu menggantung di udara.

Reruntuhan Al Khoziny meninggalkan luka mendalam. Bukan hanya pada keluarga korban. Tetapi pada sistem pendidikan keagamaan kita secara keseluruhan. Pertanyaan besarnya: apakah kita akan belajar kali ini, atau menunggu tragedi berikutnya?

Angka 49 bukan sekadar statistik. Itu adalah 49 masa depan yang padam. Empat puluh sembilan mimpi yang terkubur. Dan mungkin, 49 pengingat bahwa keselamatan tidak bisa ditawar lagi.

Baca Juga: Politisi Gerindra Tolak Keras Penutupan MBG Pascakeracunan Massal di Parimo

Halaman:

Tags

Terkini