Sulawesitoday - Tragedi kemanusiaan terus berlanjut. Ponpes Al Khoziny menjadi saksi bisu. Minggu (5/10/2025) pagi ini, angka kematian bertambah mencapai 36 jiwa. Sementara 27 santri lainnya masih terkubur di bawah puing bangunan yang ambruk enam hari lalu.
Operasi penyelamatan tidak berhenti. Tim SAR gabungan bekerja tanpa jeda. Mereka berpacu dengan waktu. Harapan menemukan korban hidup kian tipis, namun semangat tim tak pernah padam.
-
Bagaimana Kondisi Evakuasi Saat Ini?
Alat berat terus menderu. Ekskavator dan crane bergerak cepat mengangkat reruntuhan gedung tiga lantai itu. Area bencana dibagi menjadi beberapa sektor. Masing-masing sektor dijaga ketat. Koordinasi tim berjalan solid.
"Kami bekerja nonstop 24 jam," ujar salah satu anggota tim lapangan. Setiap sudut puing disisir teliti. Setiap celah diperiksa hati-hati. Tidak ada yang boleh terlewat. Nyawa masih menjadi prioritas utama.
Peralatan detektor kehidupan dikerahkan. Anjing pelacak ikut membantu. Teknologi dan insting bekerja beriringan. Pencarian dilakukan dengan presisi tinggi untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada struktur bangunan yang rapuh.
-
Siapa Saja Korban yang Sudah Teridentifikasi?
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur turun langsung. Mereka bekerja sama dengan keluarga korban. Data antemortem dikumpulkan dengan cermat. Proses identifikasi dipercepat demi kepastian keluarga.
Setiap jenazah yang berhasil dievakuasi langsung dibawa ke rumah sakit. Pemeriksaan forensik dilakukan menyeluruh. Sidik jari, gigi, hingga DNA menjadi kunci identifikasi. Keluarga korban menunggu dengan cemas di posko pengungsian.
Suasana haru memenuhi lokasi. Tangis pecah setiap kali jenazah ditemukan. Keluarga saling berpelukan menahan duka. Pesantren yang biasanya ramai dengan lantunan dzikir, kini hanya terdengar isak tangis dan doa.
-
Apa Penyebab Bangunan Runtuh?
Fondasi lemah jadi tersangka utama. Gedung tiga lantai itu ambruk Senin (29/9/2025) sekira pukul 15.30 WIB. Konstruksi bangunan diduga tidak sesuai standar. Material yang digunakan dipertanyakan kualitasnya.
Investigasi awal menunjukkan tanda-tanda keretakan pada struktur utama. Beberapa saksi menyebut ada suara gemuruh sebelum bangunan roboh. Santri yang berada di dalam gedung tidak sempat menyelamatkan diri. Semuanya terjadi begitu cepat.
Tim ahli bangunan dari Dinas PUPR Jawa Timur sudah turun mengecek. Mereka mengambil sampel material untuk dianalisis. Dugaan kelalaian dalam pembangunan mulai mencuat. Pertanyaan besar menggantung: siapa yang bertanggung jawab atas nyawa puluhan santri ini?
-
Berapa Lama Proses Evakuasi Akan Berlangsung?
Koordinator lapangan memperkirakan evakuasi masih butuh waktu. "Minimal tiga hari lagi," katanya dengan nada pesimis. Reruntuhan sangat masif dan berbahaya. Setiap langkah harus diperhitungkan matang.
Cuaca menjadi tantangan tersendiri. Hujan sempat mengguyur lokasi kemarin malam. Tanah menjadi licin dan berisiko longsor. Pekerjaan sempat melambat untuk sementara. Namun begitu reda, tim kembali bekerja maksimal.
Logistik terus didatangkan. Relawan berdatangan dari berbagai daerah. Mereka membawa bantuan makanan, air bersih, hingga perlengkapan medis. Solidaritas masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya begitu menguar kuat di tengah duka yang mendalam.
Artikel Terkait
Misbakhun Ingatkan Menkeu, Jangan Lewati Batas Kewenangan Soal Subsidi LPG
Deddy Corbuzier Pertanyakan Kebocoran Data, Ketika Humas Pengadilan Bicara Soal Perkara Tertutup
Menkeu Purbaya Tawarkan Ampunan, Produsen Rokok Ilegal Diajak Masuk Kawasan Industri
Saling Jawab Isu Kilang Minyak: Menkeu Purbaya vs Pertamina dan Menteri ESDM Bahlil
Aksi Tagih Paksa Nasabah Makin Brutal, Debt Collector Berani Adu Mulut dengan Polisi di Tangerang