berita

Warga Kampung Sadang Bertahan di Zona Radiasi Cesium-137, Relokasi Ditolak Mentah-Mentah

Rabu, 15 Oktober 2025 | 13:47 WIB
Warga Kampung Sadang, Serang menolak relokasi dari zona radiasi Cesium-137. Kenyamanan rumah lebih kuat dari ancaman bahaya

Namun, kenyamanan fisik tidak selalu mengalahkan ikatan emosional. "Kalau pindah sementara ke gedung, disiapin makan, anak dijamin, tetap aja kurang nyaman," ungkap Rukmawati. Ada sesuatu yang hilang saat meninggalkan rumah sendiri.

"Lebih enak tinggal di rumah sendiri, meskipun agak khawatir," tambahnya. Kalimat kontradiktif yang merangkum dilema warga: keselamatan versus kenyamanan, rasionalitas versus emosi.

  • Siapa yang Bertanggung Jawab atas Komunikasi?

Pertanyaan ini menggantung. Sosialisasi perilaku hidup bersih sehat (PHBS) memang sudah dilakukan di Kantor Kecamatan Cikande. Namun, pesan itu tampaknya tidak sampai ke telinga warga Kampung Sadang.

Hengki menegaskan pentingnya akurasi data. "Pendataan harus betul-betul akurat, siapa yang harus meninggalkan tempat, bagaimana kebutuhan tempat tidurnya, kamar mandinya, MCK, hingga transportasi untuk bekerja atau sekolah," jelasnya.

Namun, akurasi teknis tidak cukup. Diperlukan pendekatan humanis. Komunikasi dua arah yang melibatkan warga sejak awal. Bukan sekadar menempel stiker dan menarik garis kuning, lalu berharap warga patuh tanpa pertanyaan.

Kesenjangan komunikasi ini menciptakan ketegangan. Di satu sisi, pemerintah bergerak cepat dengan protokol teknis. Di sisi lain, warga merasa diabaikan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup mereka.

  • Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Proses dekontaminasi akan dimulai. Zona bahaya harus dibersihkan. Namun, tanpa kepercayaan warga, relokasi akan sulit berjalan mulus. Waktu terus berdetak. Radiasi tidak menunggu.

Sarniti tetap di kiosnya. Rukmawati tetap di rumahnya. Mereka memilih hidup berdampingan dengan bahaya yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Bukan karena keberanian, melainkan karena ketiadaan pilihan yang benar-benar mereka percayai.

Pemerintah menawarkan keselamatan. Warga mempertahankan kenyamanan. Dan di tengah-tengahnya, terdapat jurang komunikasi yang belum terjembatani.

Baca Juga: Tanpa Klarifikasi Resmi, Guru SMKN 7 Palembang Terseret Kasus Fitnah Murid - Orangtua Pilih Jalur Hukum

Halaman:

Tags

Terkini