• Selasa, 21 Juli 2026

Video Viral Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Dheninda Chaerunnisa Picu Polemik Etika Publik

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 15 Oktober 2025 | 05:53 WIB
Ekspresi wajah Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Dheninda Chaerunnisa viral saat demonstrasi AMP-Gorut. Antara klarifikasi vs kritik soal etika publik di era digital
Ekspresi wajah Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Dheninda Chaerunnisa viral saat demonstrasi AMP-Gorut. Antara klarifikasi vs kritik soal etika publik di era digital

 

Sulawesitoday - Sebuah potongan video yang beredar di media sosial pada pekan lalu telah membuka perdebatan mendalam tentang etika dan responsivitas pejabat publik di era digital. Video berdurasi pendek itu menampilkan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gorontalo Utara, Dheninda Chaerunnisa, dengan ekspresi wajah yang dinilai kontras dengan apa yang seharusnya menjadi momen apresiasi terhadap aspirasi masyarakat. Gesekan ini bukanlah sekadar perbenturan antar individu, melainkan simbol dari sebuah pergulatan yang lebih luas: bagaimana pejabat publik harusnya merespons suara rakyat di hadapan kamera yang selalu siap merekam.

  • Bagaimana Momen Viral Itu Muncul ke Permukaan Publik?

Insiden berlangsung saat Aliansi Masyarakat Peduli Gorontalo Utara (AMP-Gorut) menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRD pada hari Selasa, 14 Oktober 2025. Demonstran hadir dengan membawa sejumlah isu substansial: mulai dari dugaan praktik calo dalam rekrutmen PPPK paruh waktu, masalah upah yang masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR), hingga persoalan tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang menimpa sejumlah perusahaan di wilayah setempat. Orasi mereka berlangsung cukup intens, penuh dengan nada desakan agar pejabat publik segera bertindak. Namun, di tengah momentum tersebut, sebuah detail kecil terekam—dan detail kecil itu pun menjadi besar dalam layar kaca digital.

Dalam video itu, terlihat Dheninda mengenakan busana ungu kemerahan, berdiri di antara kerumunan massa yang sedang melakukan demonstrasi. Ekspresi wajahnya, khususnya gerak bibir dan mimik yang terekam, langsung menyulut interpretasi beragam dari publik. Beberapa menganggapnya sebagai gestur ejekan. Sebagian lain melihatnya sebagai sikap meremehkan. Dalam hitungan jam, video itu tersebar di berbagai platform media sosial, menjadi topik pembicaraan yang menggelindingkan nama Dheninda ke dalam sorotan publik yang tidak terlalu menyenangkan.

  • Apa Penjelasan Dheninda Chaerunnisa Atas Insiden Tersebut?

Tidak tinggal diam menghadapi gejolak opini publik, Dheninda segera memberikan klarifikasi. Pendekatan yang ia ambil bukan sekadar membantah, melainkan menjelaskan konteks yang ia yakini telah hilang dalam potongan video yang viral. Menurut politisi dari Partai NasDem ini, ekspresi tubuhnya bukanlah bentuk pengejakan terhadap demonstran. Sebaliknya, apa yang tertangkap kamera adalah respons spontan kepada stafnya yang tengah memberikan dukungan moral dari dekat mobil sound.

"Mereka memberi semangat dari dekat mobil sound, seperti berkata 'jangan takut, kami di sini'. Saya membalasnya dengan gerakan bibir dan kepala, seolah menjawab 'iya, saya tidak takut'," ujar Dheninda saat dikonfirmasi Liputan6.com. Penjelasan ini berusaha memposisikan insiden sebagai komunikasi internal yang kemudian tertangkap lensa eksternal—sebuah kekeliruan interpretasi visual. Dheninda juga menekankan bahwa video yang viral telah keluar dari konteks sebenarnya. Ia mengungkapkan penyesalan atas kesimpulan sepihak yang berkembang di publik dan dengan tegas menegaskan bahwa dirinya selalu menghargai dan terbuka terhadap aspirasi masyarakat.

"Saya selalu terbuka terhadap aspirasi. Demonstrasi adalah bagian dari demokrasi yang saya hargai," katanya, berusaha menutup celah yang terbuka antara dirinya dan publik.

  • Benarkah Klarifikasi Itu Cukup Menutup Polemik?

Sayangnya, perspektif Dheninda tidak sepenuhnya diterima oleh pihak demonstran. Aliansi Masyarakat Peduli Gorontalo Utara tetap mempertahankan posisi mereka bahwa sikap Dheninda adalah bentuk nyata dari arogansi pejabat publik. Koordinator aksi mereka, Andi, mengemukakan bahwa gestur yang terekam merendahkan semangat perjuangan rakyat yang telah berusaha membawa substansi ke hadapan pejabat.

"Kami datang membawa substansi, tapi justru disambut dengan sikap yang mencibir. Ini mencederai semangat demokrasi," ungkapnya dengan nada yang penuh keyakinan. AMP-Gorut tidak puas dengan penjelasan Dheninda. Mereka merasa bahwa apa pun konteks di balik gerak bibir itu, dampaknya tetap sama: sebuah pesan yang diterima publik sebagai pengabaian. Bahkan, mereka mendesak agar Ketua DPW Partai NasDem Gorontalo, Rahmat Gobel, segera turun tangan dan menertibkan anggota partainya agar menjaga etika publik dengan lebih baik.

"Kader partai harus menjaga etika publik. Kami minta Pak Rahmat menertibkan anggotanya," tegas Andi kepada media.

  • Apa yang Sesungguhnya Disampaikan Demonstran Itu?

Perlu dicatat bahwa fokus demonstrasi AMP-Gorut bukanlah semata-mata tentang ekspresi wajah seorang pejabat. Di balik video viral itu, ada isu-isu konkret yang mendesak solusi: praktik calo dalam seleksi PPPK paruh waktu yang mencurigakan, upah pekerja yang masih jauh di bawah standar minimum, dan persoalan penunggakan pajak oleh perusahaan-perusahaan besar yang seharusnya dikelola dengan lebih disiplin. Demonstrasi mereka adalah ungkapan frustrasi terhadap sistem dan mekanisme yang dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil.

  • Bagaimana Dheninda Merespons Kritikan Lebih Lanjut?

Kembali menghadapi tekanan, Dheninda menegaskan kesiapannya untuk menerima kritik dan masukan dari masyarakat. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada mereka yang merasa tersinggung. Namun, dalam pernyataan terakhirnya, ada nuansa berbeda: pengakuan bahwa dalam aksi tersebut ada beberapa pernyataan yang menyerempet ranah pribadi dan keluarganya. Meskipun demikian, sebagai pejabat publik, ia memilih menanggapinya dengan kepala dingin dan fokus pada dialog substansial.

"Kalau ada pihak yang tersinggung, saya mohon maaf. Tidak ada niat buruk. Mari kita fokus pada persoalan yang lebih substansial," ucapnya dengan nada yang berusaha mengajak perdamaian. Dheninda kemudian menutup dengan pernyataan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci untuk menyelesaikan semua persoalan. Namun, pertanyaan yang tersisa bagi publik adalah: apakah komunikasi yang baik juga termasuk kesadaran tentang apa yang disampaikan ekspresi tubuh kita, terutama ketika sedang berada di ruang publik dan dalam posisi sebagai pejabat yang memegang tanggung jawab?

Insiden ini menjadi pengingat bahwa di era media sosial dan kemudahan perekaman visual, setiap gerak—sekecil apa pun—memiliki potensi untuk menjadi pesan. Etika publik bukan hanya tentang kata-kata yang diucapkan, tetapi juga tentang kesadaran diri dan empati dalam setiap momen yang dapat disaksikan publik. Apakah pembelajaran ini akan membawa perubahan dalam cara pejabat publik berinteraksi dengan aspirasi rakyat mereka, itulah yang perlu kita amati bersama-sama.

Baca Juga: Satgas PKH Ungkap Kejahatan Hutan Mentawai, PT BRN Tersangkut Skandal 4610 Kubik Kayu Liar Senilai Rp230 Miliar

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini