Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, memang duduk sebagai Wakil Presiden. Namun menurut sumber internal, pengaruh Gibran dalam pemerintahan tidak sebesar yang diharapkan. Beberapa kebijakan kunci justru diambil tanpa konsultasi dengan Jokowi atau lingkaran terdekatnya. Ini menimbulkan kekecewaan di kubu lama.
Ray Rangkuti melihat pola ini sebagai strategi Prabowo untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Jokowi. "Prabowo tidak ingin dilihat sebagai perpanjangan tangan Jokowi," kata Ray. Dengan membiarkan dua proyek ikonik itu bermasalah, Prabowo seolah mengirim pesan: era baru telah dimulai. Warisan lama tidak lagi sakral.
Masyarakat Terjebak di Tengah Konflik Elite?
Yang menjadi korban dari dinamika politik ini adalah rakyat. Proyek Whoosh, yang harusnya memudahkan mobilitas Jakarta-Bandung, kini ternoda dugaan korupsi. Kepercayaan publik merosot. IKN, yang dijanjikan sebagai kota masa depan, kini mandek tanpa kepastian. Anggaran triliunan rupiah yang sudah dikucurkan terancam mubazir.
"Rakyat tidak peduli siapa yang berseteru," ungkap seorang pengamat kebijakan publik yang enggan disebutkan namanya. "Yang mereka inginkan adalah proyek berjalan, manfaat dirasakan, dan uang negara tidak dikorupsi." Pernyataan ini mewakili kekecewaan banyak kalangan terhadap drama politik elite yang tak berkesudahan.
Ray Rangkuti mengingatkan pentingnya untuk memisahkan urusan pribadi dengan kepentingan negara. "Kalau ada masalah antara Jokowi dan Prabowo, selesaikan secara dewasa," katanya. "Jangan sampai proyek strategis negara jadi tumbal politik." Namun pada kenyataannya, memisahkan keduanya dalam dunia politik Indonesia memang bukan perkara mudah.
Baca Juga: Prabowo Subianto Serang 'Serakahnomics' di Forum APEC: Ekonomi Serakah Ancam Stabilitas Global