berita

Trauma Psikologis Siswa SMAN 72 Jakarta Jadi Perhatian Serius, Medsos Diduga Jadi Pemicu

Sabtu, 8 November 2025 | 10:01 WIB
Ledakan SMAN 72 Jakarta lukai 54 siswa. Trauma psikologis jadi perhatian. DPR soroti pengaruh medsos. Pelaku remaja 17 tahun

Sulawesitoday - Ledakan misterius melukai puluhan siswa. SMAN 72 Jakarta Utara dikejutkan insiden mengerikan. Jumat pagi, 7 November 2025. Bukan hanya luka fisik. Trauma psikologis menghantui para korban.

Irjen Pol. Asep Edi Suheri, Kapolda Metro Jaya, mencatat 54 siswa menjadi korban. Sebagian besar kini terbaring lemah di rumah sakit. Luka bakar membekas di kulit mereka. Serpihan benda keras meninggalkan jejak. Namun luka terdalam? Tersembunyi di dalam pikiran.

"Data sementara korban ada 54 orang," ungkap Asep Edi Suheri di Jakarta, Jumat sore kemarin. Suaranya tenang namun tegas. Investigasi masih bergulir. Posko darurat didirikan di RS Yarsi dan RS Islam Cempaka Putih. Koordinasi medis berjalan intensif.

Ledakan terjadi mendadak. Kawasan Kelapa Gading yang biasanya ramai pembelajaran, berubah menjadi zona bencana. Penyebab? Diduga bahan kimia yang dibawa seorang remaja. Namun pertanyaan lebih besar mengemuka: apa yang mendorong seorang anak membawa bahan berbahaya ke sekolah?

Berapa Banyak Siswa yang Harus Dioperasi?

Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua KPAI, mengunjungi para korban di RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Wajahnya tampak prihatin. Tujuh anak dijadwalkan menjalani operasi. Kondisi mereka serius.

"Ada sebagian yang harus dioperasi ya. Tadi data terakhir ada sekitar tujuh anak," kata Margaret kepada wartawan, Jumat sore. Nada bicaranya penuh empati. 

Awalnya hanya 14 korban dirawat inap. Namun angka terus merangkak naik. Rujukan dari puskesmas berdatangan. Kondisi beberapa siswa memburuk tanpa diduga.

"Informasinya tadi, 33-an anak yang masih ada di sini. Tapi rupanya bertambah karena sebagian anak ada yang dibawa dari puskesmas," jelasnya. Keluarga korban berdatangan. Tangis memenuhi lorong rumah sakit. Doa dipanjatkan tanpa henti.

Luka fisik bisa diobati. Namun bekas serpihan yang tertanam dalam, membutuhkan operasi. Dokter bekerja tanpa henti. Perawat berlalu-lalang dengan tergesa. Waktu menjadi faktor krusial bagi kesembuhan.

Apakah Korban Mengalami Gangguan Psikologis?

Margaret menegaskan satu hal penting. Trauma psikologis tak kalah berbahaya dari luka fisik. Semua anak terpapar kejadian mengerikan itu. Baik yang terluka maupun tidak.

"Karena pasti anak-anak ini mengalami trauma," terang Margaret dengan nada serius. "Semua anak, baik yang mengalami luka atau tidak, yang mendengar dan menyaksikan kasus tadi, itu pasti membutuhkan pendampingan psikologis."

Ledakan keras menggema di telinga mereka. Jeritan teman-teman membekas dalam ingatan. Pemandangan mengerikan tak mudah terlupakan. Mimpi buruk mungkin akan menghantui malam-malam mereka.

Halaman:

Tags

Terkini