"Kita harus dapat bertindak dengan cepat namun sekaligus tepat," tegas SBY dalam rapat tersebut.
Ada usulan agar SBY kembali ke Jakarta dulu. Tunggu informasi lebih lengkap, baru ke Aceh. SBY menolak mentah-mentah. "Tidak. Kita langsung ke Aceh," putusnya. "Persiapkan penerbangan kita. Kita berangkat sepagi mungkin."
Pagi 27 Desember 2004, SBY terbang langsung dari Jayapura ke Aceh. Pemandangan dari udara sangat mengerikan. Seluruh pesisir barat Aceh rata dengan tanah.
Keputusan SBY untuk langsung ke lokasi bencana tanpa kembali ke Jakarta dulu menjadi preseden penting. Kepemimpinan dalam krisis tidak bisa dilakukan dari jarak jauh.
Prabowo kini mengikuti jejak serupa. Rapat darurat di Hambalang, keputusan cepat, lalu langsung terbang ke Aceh. Pola kepemimpinan yang sama: hadir, dengar langsung, putuskan cepat.
Benarkah Infrastruktur Aceh Siap Hadapi Bencana?
Pertanyaan ini mengganjal sejak awal. Aceh seharusnya sudah lebih siap menghadapi bencana alam.
Sejak Tsunami 2004, miliaran rupiah dana rehabilitasi mengalir ke Aceh. Sistem peringatan dini tsunami dibangun. Jalur evakuasi disiapkan. Gedung-gedung darurat bencana didirikan.
Namun banjir bandang November 2025 ini memperlihatkan celah besar. Sistem drainase tidak memadai. Hutan lindung di hulu sudah banyak yang gundul. Daerah aliran sungai tidak terawat.
Beberapa kabupaten yang terisolasi ternyata tidak memiliki akses jalan alternatif. Ketika jembatan utama ambruk, seluruh wilayah langsung terpotong dari dunia luar.
Jaringan listrik juga sangat rapuh. PLN memang berjanji memulihkan dalam dua hari. Namun pertanyaannya: mengapa begitu mudah padam?
Kritik mulai bermunculan di media sosial. Anggaran mitigasi bencana selama ini ke mana? Mengapa infrastruktur dasar begitu mudah lumpuh?
Prabowo belum memberikan komentar langsung soal ini. Namun instruksinya untuk percepatan pemulihan infrastruktur bisa dibaca sebagai sinyal.
Pemerintah pusat tampaknya menyadari ada masalah sistemik di Aceh. Bukan sekadar urusan tanggap darurat, tapi juga soal kesiapan jangka panjang.
Berapa Kerugian yang Ditimbulkan?