Lebih memilukan, sang anak harus menempuh jalur terjal, berjalan jauh, demi mencari makanan. Setiap langkah anak itu menjadi kekhawatiran tersendiri.
“Anak saya mencari jauh-jauh. Kasihan. Saya takut,” tuturnya.
-
Di Mana Negara dalam Cerita Ini?
Pertanyaan itu tak pernah diucapkan langsung. Namun menggantung di udara. Data sudah ada. Korban sudah tercatat. Pengungsi sudah ratusan ribu.
Yang tersisa kini adalah kecepatan dan kepekaan.
Bencana bukan hanya soal air dan tanah. Ia juga tentang martabat. Tentang hak untuk beribadah dengan layak. Tentang selimut yang mampu mengusir dingin malam.
Aceh Tamiang memberi pengingat keras. Bahwa di balik angka-angka resmi, ada curhat kecil yang sering luput didengar. Dan mungkin, justru itulah yang paling penting untuk diselamatkan.
Baca Juga: Puing Kayu Hambat Tim China Deteksi Jenazah Korban Banjir Aceh, Gubernur Mualem Akui Belum Maksimal