WALHI mencatat setidaknya 13 perusahaan terlibat. Mereka bergerak di sektor kehutanan, pertambangan, dan perkebunan. Semua melakukan perusakan hutan secara masif. Akibatnya, daya tampung lingkungan hidup menurun drastis.
-
Berapa Hektar Hutan Aceh Berubah Jadi Kebun Sawit?
Data WALHI mengungkap fakta mencengangkan. Sebanyak 5.208 hektar kawasan hutan dialihfungsikan. Berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pelakunya 14 perusahaan yang beroperasi di Provinsi Aceh.
Tujuh kabupaten menjadi sasaran. Aceh Barat, Nagan Raya, Pidie, Aceh Jaya, Aceh Tengah, Aceh Selatan, dan Aceh Besar. Semua mengalami nasib serupa. Hutan hijau berganti hamparan sawit.
Dampaknya sangat serius. Sebanyak 954 Daerah Aliran Sungai (DAS) rusak parah. Angka yang mencengangkan. Lebih parah lagi, 60 persen kerusakan terjadi di kawasan hutan lindung.
Kawasan hutan yang seharusnya menjadi benteng terakhir. Pelindung dari bencana alam. Kini justru menjadi medan eksploitasi. Ironi yang menyakitkan bagi rakyat Aceh.
Minimnya daerah resapan air akhirnya berdampak fatal. Ketika hujan deras mengguyur, air tidak terserap tanah. Semua mengalir deras ke pemukiman. Menciptakan banjir bandang yang mematikan.
Kini desakan menguat dari berbagai pihak. Kementerian Kehutanan RI diminta bertindak tegas. Tidak cukup hanya evaluasi. Pencabutan izin dan penegakan hukum harus segera dilakukan.
Sementara itu, konvoi truk sawit terus melaju. Bisnis berjalan seperti biasa. Seolah tak ada yang terjadi. Di sisi lain, warga korban banjir masih berjuang. Membersihkan rumah dari lumpur. Memulihkan kehidupan yang hancur.
Pertanyaannya sederhana namun menusuk: Sampai kapan keadilan lingkungan hanya menjadi slogan kosong? Sampai kapan kepentingan bisnis terus mengorbankan nyawa rakyat? Aceh menunggu jawaban. Bukan janji.