berita

Bonan Dolok Masih Terisolir, Warga Tempuh Perjalanan Ekstrem Demi Bantuan Logistik

Rabu, 17 Desember 2025 | 22:46 WIB
Bonan Dolok terisolir pasca banjir Tapteng. Warga seberangi sungai demi bantuan. 131 meninggal, 41 hilang. Solidaritas tetap hidup

Sulawesitoday - Hampir tiga pekan berlalu. Bonan Dolok belum terjamah. Desa di Kecamatan Sitahuis ini masih terkatung akses akibat banjir dan longsor yang menghantam Tapanuli Tengah akhir November lalu.

Rabu, 17 Desember 2025. Video di media sosial menggambarkan perjuangan warga. Mereka berkumpul di titik distribusi. Wajah lelah terpancar jelas. Bantuan logistik menjadi harapan satu-satunya.

Banjir bandang yang meluluhlantakkan infrastruktur Sumatera Utara meninggalkan luka mendalam di Tapanuli Tengah, khususnya di wilayah Sitahuis. Jalan amblas. Jembatan hanyut. Bonan Dolok kini seperti pulau terpencil di tengah daratan.

Seberapa Jauh Warga Harus Berjuang?

Perjalanan mereka bukan main. Warga harus melewati jalur berlumpur. Risiko longsor susulan mengintai. "Takut longsor, iya jalanya kan becek semua," ungkap seorang warga dengan nada was-was.

Tantangan tak berhenti di situ. Mereka harus menyeberangi sungai. Arus masih deras. Pijakan tidak pasti. Namun pilihan tak banyak—hidup atau menyerah pada isolasi.

Video yang beredar memperlihatkan puluhan warga mengantre di pos bantuan. Beras, mi instan, sarden kaleng, hingga minyak goreng menjadi barang berharga. Setiap paket dibawa dengan penuh syukur, meski harus ditempuh dengan pengorbanan besar.

Solidaritas di Tengah Bencana

Yang menarik bukan hanya perjuangan individual. Ada cerita yang lebih dalam. Seorang ibu paruh baya terlihat membawa bubur bayi dan popok.

"Ini nanti buat sama anak bayi," katanya pelan. Bayi itu yatim piatu. Orang tuanya meninggal tertimbun longsor—pasangan yang ditemukan berpelukan dalam reruntuhan.

Kisah itu viral beberapa hari lalu. Dua jasad ditemukan saling memeluk. Mereka mencoba melindungi satu sama lain di detik-detik terakhir. Kini bayi mereka harus bertahan tanpa kedua orang tua.

Ibu tersebut bukan keluarga dekat. Ia tetangga biasa. Tapi solidaritas membuatnya rela berjalan jauh, menyeberang sungai, hanya untuk memastikan bayi itu tidak kelaparan.

"Ada yang lebih butuh daripada saya," ujarnya sambil merapikan tas berisi bantuan untuk sang bayi.

Berapa Banyak Korban Sebenarnya?

Halaman:

Tags

Terkini