"Itu apa om? Rambutan? Dikasih rambutan kita, dianterin numpang toilet ke rumah, dikasih rambutan. Baik-baik sekali orang-orang ini," tambahnya dengan nada tak percaya.
Video berdurasi 28 detik itu merekam ketulusan sederhana. Tanpa pretensi. Tanpa kamera yang disengaja. Hanya interaksi manusia dengan manusia.
Pola ini berulang. Bukan hanya satu dua kasus. Beberapa relawan lain juga melaporkan pengalaman serupa. Warga yang seharusnya dibantu, justru berbagi apa yang mereka punya. Kendati sedikit.
Warganet Terharu, "Kepeduliannya Sangat Besar"
Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut. Mayoritas mengapresiasi. Beberapa bahkan terharu.
"Orang Aceh memang sebaik itu," tulis akun @jfz***** singkat namun tegas.
Akun @cimm********** menambahkan perspektif lebih luas. "Banyak kebaikan yang bisa kita ambil dari warga Aceh, semoga cepat berlalu masa-masa sulitnya."
Komentar lain dari @cop******* menyoroti pola yang teramati. "Dari beberapa video, para korban bencana itu sering berbagi makanan dengan orang lain seperti relawan yang datang, padahal mereka sendiri juga sangat kekurangan."
Sementara @rifa************ merangkum dengan kalimat pendek. "Dia terkena musibah, dia masih berbagi, dan di akhir masih tersenyum."
Senyum itu mungkin kunci. Di tengah kehilangan, tetap ada yang bisa dibagi. Bukan harta. Bukan bantuan besar. Hanya rambutan. Dan keikhlasan.
Ketika Bencana Justru Membuka Hati
Fenomena ini bukan baru. Aceh punya sejarah panjang soal kerelaan berbagi. Dari tsunami 2004 hingga bencana-bencana berikutnya.
Namun tetap saja. Setiap kali momen seperti ini terekam, hati tetap terenyuh. Karena kontrasnya terlalu tajam.
Di satu sisi, banjir merendam rumah. Merusak harta benda. Memutus akses kehidupan normal. Di sisi lain, justru muncul kebaikan yang spontan. Tanpa diminta. Tanpa pamrih.
Rambutan itu bukan sekadar buah. Ia simbol. Representasi dari nilai yang masih bertahan. Bahwa kemanusiaan tidak tenggelam bersama air bah. Justru mengapung. Terlihat jelas.