Dunia komedi memang penuh ranjau. Apalagi kalau sudah menyerempet wilayah iman. Niatnya mungkin ingin memotret realitas, tapi cara potretnya bisa dianggap menghina.
Pandji sudah melangkah. Ia mendatangi sumber otoritasnya. Ia tidak menunggu dipanggil paksa, ia datang dengan kesadaran sendiri.
Apakah laporan di polisi akan berlanjut? Itu urusan lain. Tapi di Menteng, sore itu, sebuah jembatan komunikasi sudah dibangun.
Ternyata, tertawa itu butuh etika. Dan komedi, sehebat apa pun, tetap butuh empati.
Pandji sudah belajar itu di kantor MUI. Kita tunggu, apakah materi selanjutnya akan tetap "menggigit" tanpa harus melukai.
Baca Juga: Satire Tambang Ormas Keagamaan Bawa Pandji ke Polda Metro