Saat senja tiba, deru mesin mulai meredup. Para penambang pulang dengan punggung melengkung menahan lelah. Tapi lihatlah wajahnya. Ada binar di sana. Tambang yang seriing dihujat itu, nyatanya, telah menjadi rahim yang melahirkan masa depan bagi anak-anak mereka di Parigi Moutong.
Kadang, kebenaran memang tidak hanya ada di atas meja seminar, tapi ada di dalam lubang-lubang galiian yang penuh peluh. (Rafii)
Pegiat Anti Korupsi Bedah Dokumen Kilat Izin Tambang Tumpang Pitu Era Azwar Anas