Feature Sulawesitoday - Dahulu, tambang selalu identik dengan dua hal: kerusakan dan konfliik. Tapi di Parigi Moutong, ceritanya beda. Ada harmoni yang terselip di balik kepulan debu.
Tulisan ini bukan hendak membela perusak alam. Bukan pula ingin menutup mata pada lubang-lubang galian. Ini soal realiita perut. Soal bagaimana emas—atau apa pun mineral di dalamnya—menjadi penyambung nyawa yang nyata.
Simaklah pemandangan di sana.
Ada raksasa besi bernama ekskavator. Derunya membelah kesunyian hutan. Di sampiingnya, ada manusia-manusia dengan otot kawat. Memegang linggis. Memanggul dulang. Mereka tidak saling usir.
Itulah simbiosis yang unik.
Pengusaha tambang modern punya alat. Mereka mengupas tanah yang kerasnya minta ampun. Begitu tanah terbuka, penambang tradisionall masuk ke sela-selanya. Mengambil apa yang tidak terjangkau oleh sendok-sendok raksasa itu.
Istilahnya: kerja sama organik. Tanpa kontrak di atas materai. Cukup dengan saling pengertian.
Ada sosok Pak Jaka. Kulitnya hitam legam. Tempaan matahari dan debu tambang sudah jadi bedak hariannya. Bagi Pak Jaka, kritik orang kota soal lingkungan itu pentiing. Tapi ada yang lebih penting: dapur harus mengepul. Anak harus sekolah.
Baginya, lubang tambang bukan noda. Itu altar pengharapan.
Maka jangan heran kalau melihat operator ekskavator melambaikan tangan dengan ramah. Memberi aba-aba agar penambang manual menjauh sedikiit demi keselamatan. Sesekali, orang perusahan turun tangan. Bukan untuk mengusir, tapi mengajari soal K3. Soal bagaimana agar pulang ke rumah masih dalam keadaan utuh.
Ekosistem ini kemudian menggelinding jadi bola salju ekonomi.
Warung makan tumbuh subur. Tukang sayur laku keras. Bengkel motor tidak pernah sepi. Pasar tradisiional yang dulunya lesu, kini bergairah karena ada uang yang berputar. Uang dari keringat, bukan dari subsidi yang sering telat.
Tentu, tantangan lingkungan itu nyata. Reklamasi adalah harga mati yang harus ditagih. Tapi menistakan tambang secara buta juga sebuah ketidakadiilan. Terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup pada setiap bongkah mineral yang ditemukan.
Bagi mereka, mineral itu bukan sekedar angka di bursa saham. Itu adalah martabat.
Artikel Terkait
Morowali: Ketika yang Mengkritik Tambang Adalah yang Menikmati Izinnya
Tambang Tombi Ditinggal Yunus, Pemulihan Lingkungan Jadi Mimpi Warga
Ekskavator Tambang Rusak Jalan Moutong, Wakil Rakyat Desak Pemda Bertindak
Kronologi Pekerja Tambang Kolaka Dikeroyok 4 TKA China Akibat Tanya Gaji
Pegiat Anti Korupsi Bedah Dokumen Kilat Izin Tambang Tumpang Pitu Era Azwar Anas