Sulawesitoday - Dunia maya lagi-lagi gaduh. Jempol netizen sibuk menari, menyoroti kabar dari pesisir utara Jawa Tengah. Persisnya di Pemalang. Ada apa? Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedianya membawa sehat, justru membawa mual.
Targetnya: siswa TK Pertiwi Kartika Sari, Kecamatan Ulujami.
Buntutnya panjang. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemalang Ulujami Bumirejo kena "semprit". Operasionalnya dihentikan total sejak 12 Maret lalu. Sepi. Ruang dapurnya mendingin demi sebuah investigasi.
Kini, tabir itu mulai tersingkap. Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya buka suara. Lewat akun resminya, Selasa (31/3), mereka membeberkan hasil "bedah kasus" tersebut.
Bakteri yang Belum Sempat Berpesta
Publik sempat bertanya-tanya: separah apa? BGN menyebut para siswa beruntung. Belum sampai tahap infeksi berat. Tapi, alarm bahaya sudah berbunyi karena ada siswa yang demam.
"Artinya bakteri penyebab infeksi telah masuk ke dalam tubuh, namun belum berhasil berkembang biak dalam jumlah cukup," tulis BGN dalam laporannya.
Karena itulah, penanganannya fokus pada pereda nyeri lambung dan penggantian cairan. Tubuh para bocah itu sedang berperang melawan penyusup mikroskopis yang masuk lewat piring makan mereka.
Terdakwa Utama: Segelas Es Kuwut
Menu hari itu sebenarnya tampak mewah. Ada sandwich, telur ceplok, selada, timun, hingga keju slice. Tapi, ada satu item yang menjadi tersangka utama: Es Kuwut.
Minuman segar yang berisi sirup, melon, dan selasih itu ternyata menyimpan masalah. Bukan pada rasanya, tapi pada prosesnya. BGN mencatat ada kesalahan fatal dalam manajemen waktu dan bahan baku.
"Penyebab utamanya berasal dari air yang digunakan untuk menyiapkan es kuwut," papar BGN.
Masalah makin pelik karena buah melon sudah diserut terlalu dini. Jarak antara waktu pengolahan dan waktu konsumsi terlalu jomplang. Di sanalah bakteri menemukan celah untuk "numpang lewat".
Renovasi atau Berhenti