Sulawesitoday - Api itu tidak kenal waktu. Dia datang saat mata sedang lelap-lelapnya: pukul 04.10 WITA. Di Desa Khatulistiwa, Tinombo Selatan, Jumat subuh lalu, sebuah rumah ludes. Hanya dalam hitungan menit, satu keluarga kehilangan segalanya akibat arus pendek listrik yang nakal. Senin hari ini, bantuan baru tiba, namun membawa harapan yang tidak boleh terlambat.
"Kami bergerak cepat koordinasi dengan desa. Logistik dasar harus sampai," ujar salah satu petugas BPBD Parigi Moutong di lokasi.
Bencana dan Birokrasi
Dunia bencana memang soal adu cepat. Antara api yang menghanguskan dan logistik yang menyelamatkan. BPBD Parigi Moutong rupanya tidak ingin sekadar menonton. Setelah verifikasi lapangan yang singkat, tim langsung meluncur ke Desa Khatulistiwa hari ini, Senin (6/4).
Ada satu keluarga di sana. Empat nyawa. Mereka selamat dari maut, tapi kehilangan tempat berteduh. Rumah itu kini hanya tinggal arang—kategori rusak berat. Tidak bisa lagi dihuni.
Nasib di Rumah Kerabat
Untuk sementara, mereka menumpang. Mengungsi ke rumah kerabat. Di situlah bantuan logistik diserahkan. Isinya mungkin sederhana—kebutuhan dasar—tapi bagi mereka yang baru saja kehilangan atap, itu adalah penyambung napas.
Kejadian ini seperti alarm pengingat. Soal instalasi listrik. Hal sepele yang sering diabaikan, tapi efeknya bisa menghanguskan seluruh jerih payah bertahun-tahun.
Digitalisasi Bencana
Zaman sudah berubah. Urusan lapor bencana kini tidak lagi harus menunggu surat fisik yang berliku. BPBD sudah punya aplikasi. Namanya SIBIMO. Bisa diunduh di Play Store. Atau kalau mau lebih manusiawi, bisa kontak langsung ke nomor 117 atau WhatsApp ke 0811 4180 117.
Intinya satu: waspada. Api subuh di Khatulistiwa sudah cukup menjadi pelajaran bahwa musibah tidak pernah mengetuk pintu sebelum membakar isinya.
BPBD Kepung Banjir Moutong: Alat Berat Turun, Tanggul Tuladengi Langsung Ditambal Permanen