Sudah ada sejumlah pihak yang datang mengecek kondisi para pelajar setelah jembatan roboh. Tapi mengecek dan membangun adalah dua hal yang sangat berbeda.
Tiga Sekolah Menunggu Satu Jembatan
Lestari tidak bicara banyak. Tapi yang ia sampaikan cukup untuk menggambarkan kegelisahan warganya selama ini.
"Warga di sini sudah lama berharap ada jembatan baru. Soalnya ada tiga sekolah di dekat sini. SD, SMP, sama SMA. Setiap hari anak-anak harus lewat sana," ujarnya.
Tiga sekolah. Ratusan anak. Dan satu-satunya penghubung adalah sebatang pipa yang tidak dirancang untuk dilalui manusia.
Tidak ada yang tahu persis sudah berapa lama situasi ini berlangsung. Yang pasti, jembatan darurat warga sudah lama ambruk. Dan pipa itu sudah lama jadi solusi tidak resmi — yang sepenuhnya ditanggung sendiri oleh nyawa anak-anak.
Di Mana Negara?
Garis polisi sudah terpasang. Artinya, bahaya itu diakui. Diketahui. Diberi penanda resmi oleh aparat.
Tapi pengakuan atas bahaya tanpa penanganan adalah kemewahan yang tidak bisa dinikmati anak-anak itu. Mereka tidak bisa menunggu rapat koordinasi. Tidak bisa menunggu anggaran turun. Setiap pagi, jam tetap berdetak. Sekolah tetap harus dijangkau.
Dan pipa itu tetap jadi satu-satunya jalan.
Video dua pelajar SMP yang menyeberangi sungai lewat pipa PDAM itu sudah ditonton ribuan orang. Sudah jadi bahan perbincangan. Sudah viral — kata yang begitu mudah dilontarkan dan begitu cepat terlupakan.
Yang tidak boleh terlupakan adalah ini: selama jembatan baru belum berdiri, setiap hari adalah hari yang berbahaya bagi anak-anak di sana. Bukan karena mereka ceroboh. Bukan karena orang tua mereka lalai.
Tapi karena ada yang seharusnya membangun jembatan itu — dan belum juga melakukannya.
Viral Foto Kontras MBG vs SD Negeri, Warganet: Miris dan Nyesek