Sulawesitoday - Berseragam putih-biru. Ransel di punggung. Sepatu masih terpasang. Dua pelajar SMP itu melangkah pelan di atas pipa PDAM berdiameter 50 sentimeter, belasan meter di atas permukaan sungai. Tidak ada pegangan. Tidak ada jaring pengaman. Yang ada hanya langkah hati-hati — dan doa yang mungkin tak sempat dilafalkan.
Video itu viral. Tapi yang lebih menggetarkan bukan viralnya. Melainkan fakta bahwa pemandangan seperti itu sudah berlangsung lama — dan tidak ada yang bergerak untuk mengubahnya.
Di ujung pipa itu, tak jauh dari bekas tiang jembatan yang kini hanya tinggal kenangan, selembar garis polisi berwarna kuning-hitam berkibar ditiup angin. Simbol larangan. Simbol bahaya. Tapi tidak ada jembatan penggantinya.
Itulah ironi yang terjadi di perbatasan Kelurahan Kampung Baru dan Pangkalan Mansur. Dua kawasan yang terpisah oleh sungai. Dan kini hanya dihubungkan oleh sebatang pipa besi milik PDAM.
Bekas Rel, Lalu Papan, Lalu Roboh
Dulu, di lokasi itu ada jembatan. Bukan jembatan permanen bikinan pemerintah. Tapi jembatan swadaya — bekas rel kereta tua yang disulap warga dengan papan-papan kayu agar bisa dilalui.
"Warga yang membangunnya sendiri waktu itu," kata Lestari, warga setempat yang menyaksikan langsung perkembangan situasi ini dari tahun ke tahun.
Tapi jembatan itu akhirnya ambruk juga. Entah karena usia, entah karena beban yang terus bertambah. Sejak roboh, pihak kecamatan dan kelurahan memasang garis polisi sebagai peringatan. Agar warga tidak nekad melintas di reruntuhan.
Peringatan itu dipatuhi sebagian. Tapi anak-anak sekolah? Mereka punya urusan yang lebih mendesak. Ada tiga sekolah — SD, SMP, SMA — yang lokasinya berada di dekat sana. Dan kalau tidak lewat pipa, jaraknya menjadi sangat jauh.
Maka pipa PDAM itulah yang jadi jembatan. Setiap hari. Setiap pagi. Setiap pulang sekolah.
Licin, Melengkung, dan Belasan Meter di Atas Sungai
Permukaan pipa itu tidak ramah. Cat biru yang mengelupas di beberapa bagian. Bentuknya melengkung mengikuti tarikan gravitasi — bukan lurus seperti jembatan semestinya. Dan di bawahnya, sungai mengalir tanpa belas kasihan.
Dalam rekaman video yang tersebar luas, tampak anak-anak itu tidak melepas sepatu. Ransel tetap di punggung. Langkah mereka pelan — sangat pelan — dengan tangan sesekali meraba permukaan pipa untuk menjaga keseimbangan.
Tidak ada yang tertawa dalam video itu. Tidak ada yang bercanda. Hanya konsentrasi penuh dari anak-anak yang seharusnya sedang memikirkan pelajaran — bukan memikul risiko jatuh ke sungai.
Artikel Terkait
Nekat! Bobol Brankas Toko Demi Judol, Uang Puluhan Juta Milik Minimarket Ludes Seketika
Luluhkan Hati Bos IMF, Menkeu Purbaya Pastikan Arus Modal Asing Segera Banjiri Indonesia
Makan Gratis Bikin 155 Murid Anambas Keracunan, Satu Ranjang Diisi Dua Siswa
Uang Korupsi Mengalir ke Wanita Simpanan, KPK: TPPU Selalu Muncul Setelahnya
Viral Foto Kontras MBG vs SD Negeri, Warganet: Miris dan Nyesek