berita

Banjir Melanda Nosu Mamasa: Puluhan Hektare Sawah Terendam, Petani Terancam Rugi Besar

Sabtu, 25 Januari 2025 | 14:51 WIB
Banjir besar di Nosu, Mamasa, Sulawesi Barat, merendam puluhan hektare sawah dan rumah warga. Petani alami kerugian besar. Upaya pemulihan masih berlangsung.

Sulawesitoday - Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, sejak awal pekan telah membawa dampak besar bagi masyarakat setempat. Pada Jumat (24/1/2025), banjir melanda wilayah tersebut, menyebabkan sungai meluap dan merendam puluhan hektare sawah milik petani.

Banjir ini tidak hanya menggenangi area persawahan, tetapi juga menghancurkan harapan para petani yang lahannya sudah siap panen. Lumpur yang terbawa banjir merusak tanaman, mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi warga. “Kami perkirakan ratusan hektare sawah terdampak, namun data pastinya masih dalam proses verifikasi,” ujar Kepala BPBD Mamasa, Gusti Hermiawan, pada Sabtu (25/1/2025).

Selain itu, beberapa rumah warga juga rusak akibat longsor yang terjadi bersamaan dengan banjir. Kondisi ini menambah beban masyarakat yang kini harus berjuang untuk pulih dari dampak bencana tersebut. Pemerintah daerah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), masih terus melakukan pendataan dan upaya tanggap darurat di lokasi kejadian.

Baca Juga: Abrasi Sungai Sikente: Lahan Warga Hilang, Jembatan Utama Terancam Ambruk!

Kerugian besar di sektor pertanian memerlukan perhatian serius. Banyak petani kini menghadapi ketidakpastian tentang masa depan mereka. Puluhan hektare sawah yang menjadi sumber penghidupan utama warga Nosu kini tidak bisa diselamatkan. “Iya, puluhan hektare terdampak, tapi kita belum bisa merinci semuanya,” tambah Gusti.

Meski penanganan darurat tengah berlangsung, situasi ini menyoroti pentingnya langkah-langkah mitigasi bencana di kawasan rawan banjir seperti Nosu. Pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi dan segera mengupayakan bantuan, baik berupa logistik maupun pemulihan infrastruktur. Warga juga membutuhkan pendampingan untuk menghadapi potensi dampak jangka panjang, seperti krisis pangan atau penurunan produktivitas lahan.

Bencana ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dapat meningkatkan risiko bencana alam. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak di masa depan.

Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday

Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.

Tags

Terkini