Inilah ironi di Blora. Seorang yang paham hukum harus berurusan dengan hukum karena seekor kucing. Padahal, urusannya bisa selesai dengan sedikit empati. Atau sekadar menahan kaki.
Dulu, mungkin PJ yang menegakkan aturan. Sekarang, ia harus duduk di kursi pemeriksaan. Menghadapi konsekuensi dari sebuah tendangan di hari Minggu yang tenang.
Hukum memang harus tegak. Sekalipun korbannya "hanya" seekor kucing. Karena di balik nyawa hewan, ada rasa kemanusiaan yang sedang diuji.
Begitulah.
Baca Juga: Sri Mulyani dan Epstein Files, Fakta di Balik Fitnah Digital yang Mengguncang Ekonomi
Artikel Terkait
Nekat Terobos Garis Polisi, Warga Ketol Kocar-kacir Dengar Suara dari Perut Sinkhole
Prabowo Sentil Elite di Rakornas, Jangan Menyerah Lawan Kemiskinan - Kita Ini Kaya!
Gawat! Karhutla Parigi Moutong Tembus 20 Kasus, Sehari Bisa Terjadi 5 Kali Kebakaran
Karhutla 20 Hektare di Avolua Parigi Moutong, Petugas Padamkan Api Secara Manual
Sri Mulyani dan Epstein Files, Fakta di Balik Fitnah Digital yang Mengguncang Ekonomi