• Senin, 20 Juli 2026

Eksekusi Lahan Mamuju Memanas, Eksekusi Rumah dan Tanah Ditangguhkan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 13 Februari 2025 | 18:29 WIB
Eksekusi lahan di Desa Beru-Beru, Mamuju, memicu kericuhan. Panitera Lukas Genakama jadi simbol perlawanan saat bajunya robek, memicu penundaan eksekusi rumah dan tanah.
Eksekusi lahan di Desa Beru-Beru, Mamuju, memicu kericuhan. Panitera Lukas Genakama jadi simbol perlawanan saat bajunya robek, memicu penundaan eksekusi rumah dan tanah.

SulawesitodayEksekusi lahan di Mamuju menyulut gelombang emosi yang tak terduga.

Panitera Pengadilan Negeri Mamuju, Lukas Genakama, harus menelan pahitnya perlawanan warga. Bajunya robek saat hendak membacakan putusan eksekusi lahan di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kamis (13/2/2025).

Insiden ini menjadi titik kritis dalam proses eksekusi lahan. Kamu bisa merasakan betapa panasnya suasana di lokasi yang sarat dengan ketegangan.

Warga lokal yang menolak eksekusi lahan tampak tidak rela. Mereka berkumpul di area persawahan, menolak kehadiran putusan yang dianggap merugikan hak milik.

Kericuhan pun merebak dengan pengejaran antara penggugat dan tergugat. Suasana semakin memanas sehingga menuntut intervensi aparat keamanan.

Puluhan petugas dari Polresta Mamuju segera turun tangan. Mereka berusaha menenangkan kondisi yang sudah hampir lepas kendali.

Lukas Genakama sendiri mengaku mengalami kesulitan saat menghadapi kerusuhan tersebut. "Ini baju saya dirobek, makanya saya kesulitan menjalankan tugas eksekusi lahan," ujarnya sembari menunjukkan potongan bajunya yang compang-camping.

Meskipun insiden fisik terjadi, eksekusi lahan untuk persawahan tetap berlangsung. Namun, eksekusi untuk rumah dan tanah ditangguhkan sementara karena perlawanan yang luar biasa.

Keputusan penundaan ini diambil untuk meredam konflik dan memberikan ruang bagi dialog. Pihak pengadilan berharap situasi bisa segera kondusif kembali.

Baca Juga: Coba Naikkan Follower, Pemuda Mamuju Sebar Video Syur di FB Berujung Ditangkap Polisi

Di balik kericuhan, perlawanan warga menyoroti ketidakpuasan atas kebijakan eksekusi lahan. Banyak yang merasa hak mereka diabaikan dan dipaksakan oleh otoritas.

Kejadian ini memicu pertanyaan kritis: Apakah keadilan sudah dijalankan secara seimbang? Di tengah kerusuhan, masyarakat diminta untuk menahan emosi dan mencari solusi bersama.

Intervensi aparat dan keputusan penundaan eksekusi memberikan secercah harapan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk mengedepankan dialog dan keadilan.

Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini