• Selasa, 21 Juli 2026

Lautan Putih di Haul Guru Tua Palu, Bupati Parigi Moutong Ajak Warga Teladani Sang Ulama

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Kamis, 2 April 2026 | 15:39 WIB
Ribuan jamaah padati Haul ke-58 Guru Tua di Palu. Bupati Parigi Moutong hadir serap spirit pendidikan dan perkuat silaturahmi bersama warga.
Ribuan jamaah padati Haul ke-58 Guru Tua di Palu. Bupati Parigi Moutong hadir serap spirit pendidikan dan perkuat silaturahmi bersama warga.

Sulawesitoday - Kota itu memutih. Rabu, 1 April 2026, kompleks Alkhairaat tidak lagi tampak seperti bangunan biasa. Ia menjelma menjadi samudera manusia. Ribuan jamaah tumpah ruah. Semua punya satu tujuan: Haul ke-58 Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri.

Di antara ribuan kepala itu, nampak rombongan besar dari Parigi Moutong. Tidak tanggung-tanggung. Bupati H. Erwin Burase hadir. Didampingi Wakil Bupati H. Abdul Sahid. Para pimpinan OPD pun ikut. Mereka berbaur dengan warga. Seolah tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat dalam balutan rindu pada sang ulama.

Tema tahun ini berat, tapi mengena: Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Ilmu dan Akhlak.

Cetak Biru Sebelum Viral

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, berdiri di podium. Suaranya bergetar. Haru tidak bisa disembunyikan. Ia bicara soal cinta. Cinta yang menarik kaki ribuan orang untuk datang ke Palu.

”Kalau bukan karena cinta kepada Guru Tua, tidak mungkin kita ada di sini. Ini adalah cinta yang tidak terbatas,” kata Anwar Hafid.

Gubernur punya analisis menarik. Sekarang orang sibuk bicara Indonesia Emas 2045. Tapi bagi Anwar Hafid, Guru Tua sudah "selesai" dengan konsep itu puluhan tahun silam. Lewat jaringan pendidikan Alkhairaat, sang ulama sudah merancang cetak biru kemajuan bangsa. Tanpa banyak bicara, hanya dengan kerja nyata membangun sekolah.

Satu pesannya tegas: Nasib bangsa tidak bisa diubah dengan cara instan. Jalurnya cuma satu: Pendidikan yang kuat.

Ketua Utama Alkhairaat, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Al-Jufri, mempertegas itu dalam tausiyahnya. Ia mengingatkan bahwa Guru Tua sudah mewakafkan segalanya—harta, waktu, hingga usia—untuk umat. Di barisan depan, tokoh nasional seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid tampak menyimak dengan takzim. Begitu pula Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin dan Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja.

Diplomasi Meja Makan

Acara formal selesai, tapi kebersamaan belum usai. Bupati Erwin Burase punya cara sendiri merawat silaturahmi. Rombongan dari Parigi Moutong tidak dibiarkan pulang dengan perut kosong.

Semua diajak ke kediamannya. Makan siang bersama. Di sana, protokoler yang kaku mencair. Asisten I, Asisten III, hingga para Kepala Dinas (Ketahanan Pangan, Pemuda Olahraga, dan Pariwisata) duduk semeja dengan para Camat, Kepala Desa, dan warga biasa.

Menu makanan barangkali sederhana, tapi maknanya dalam. Itulah momen rakyat curhat langsung ke pemimpinnya di sela kunyahan hidangan.

”Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tapi momentum kita untuk meneladani akhlak Guru Tua. Kebersamaan hari ini adalah wujud dari ajaran beliau tentang persaudaraan,” celetuk seorang warga sembari menikmati jamuan.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini