Sulawesitoday - Bumi sedang tidak bersahabat pagi ini. Tepat pukul 05.48 WIB, saat sebagian warga masih memeluk bantal, daratan di Maluku Utara mendadak bergoyang hebat. Bukan sekadar goyangan, tapi entakan keras berkekuatan magnitudo 7,6.
Pusatnya di laut. Dekat Pulau Batang Dua, Ternate. Kedalamannya hanya 33 kilometer. Pendek untuk ukuran gempa, tapi dampaknya panjang hingga ke tanah Sulawesi.
Di Manado, guncangan itu bukan lagi sekadar getaran. Ia adalah ancaman nyata. Gedung KONI Manado yang gagah itu tak kuasa menahan amuk tektonik. Reruntuhan material bangunan berserakan. Tragisnya, debu reruntuhan itu membawa duka: seorang pemilik kantin meninggal dunia di tempat.
"Ada beberapa bangunan runtuh, tapi bukan struktur inti. Ini menimpa beberapa penjual UMKM di bawahnya," ujar Kadispora Sulawesi Utara, Jemmy Ringkuangan.
Guncangan itu memang terasa lama. Lebih dari satu menit. Bayangkan, satu menit berdiri di atas lantai yang seolah-olah berubah jadi gelombang air. Itulah yang dirasakan warga Ternate dan Manado.
Antara Magnitudo dan Geologi
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, langsung angkat bicara. Di Ternate, guncangan mencapai skala V-VI MMI. Itu level yang cukup untuk membuat orang berlarian keluar rumah tanpa sempat mencari sandal. Kepanikan adalah reaksi paling manusiawi saat dinding mulai retak.
Mengapa guncangannya begitu merusak sampai ke seberang lautan?
Faisal punya jawabannya. Ini soal teknis, soal kombinasi antara besarnya tenaga dan dangkalnya titik pusat. "Getaran di permukaan itu tergantung dari tidak hanya kedalaman gempa tapi juga magnitudo gempanya," papar Faisal melalui kanal YouTube BMKG.
Belum lagi faktor tanah. Kondisi batuan di lokasi sangat menentukan apakah sebuah gedung akan tetap berdiri tegak atau menyerah pada gravitasi. Di Manado, selain gedung KONI, Gereja Kalvari juga dilaporkan terdampak. Ada pula rumah-rumah warga yang dindingnya rontok, menyisakan plesteran yang berserakan di lantai.
Mitigasi yang Masih Berjarak
Hingga pukul tujuh pagi tadi, bumi belum benar-benar tenang. Sudah 11 kali gempa susulan terjadi. Yang paling besar mencapai magnitudo 5,5. Cukup untuk membuat warga yang baru saja ingin masuk rumah kembali mengurungkan niat.
Ada pesan penting dari insiden ini. Sebuah pengingat yang terus berulang setiap kali bencana datang. Faisal menekankan pentingnya evaluasi. Terutama soal standar bangunan di daerah rawan.
"Bangunan di daerah yang rawan terhadap gempa di Indonesia ini perlu kita pertajam mitigasinya, tentang bagaimana bangunan tahan gempa itu didirikan," tegasnya.
Artikel Terkait
Pesona Pesisir Majene di Mata Juan Reza, Dari Stadion Prasamya Menatap Laut Biru
Bukan Sekadar Riset, Sinergi Kemenkumham Sulteng Lindungi Intelektual
Parigi Moutong Jadi Magnet Perencanaan: Menepis Ego, Merajut Sinergi di Forkkom XXIII
Sepakan Bola di HUT Ke-24 Parigi Moutong: Dari SD Sampai SMA, Semua Harus Menendang
Target Pasar Jakarta, Parigi Moutong Genjot Kualitas Beras Premium Menuju IP300