Sulawesitoday - Namanya mentereng: Koperasi Kelurahan Merah Putih Rangas. Usianya baru seumur jagung. Izin hukumnya saja baru keluar tahun 2025 kemarin. Tapi, urusan tertib administrasi, mereka tidak mau kalah dengan pemain lama. Di sebuah aula di Kecamatan Banggae, mereka baru saja membuktikan diri: kecil bukan berarti kacau.
Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 itu digelar khidmat. Ini momentum penting. Bukan sekadar kumpul-kumpul makan snack, tapi soal pertanggungjawaban. Dalam dunia koperasi, RAT adalah "hari penghakiman" bagi pengurus.
Angkanya menarik. Dari total anggota, yang datang lebih dari separuh. Kuorum. Pengawas hadir dua orang, pengurus nongol empat orang. Anggota biasa? Tiga dari enam orang datang. "Rapat sah!" ketuk pimpinan sidang. Sederhana, tapi legalitasnya mahal.
Gaya mainnya sudah modern. Hak suara diatur ketat: satu orang, satu suara. Tidak boleh titip absen, apalagi titip suara. Semua harus hadir, tanda tangan, dan bicara. Kalau mufakat mentok, baru voting. Tapi kemarin, semua lancar-lancar saja. Aklamasi.
Dinas Koperasi Majene yang hadir pun sampai angkat topi. Jarang ada koperasi baru yang langsung tancap gas soal pelaporan. "RAT ini kewajiban undang-undang. Meski ini barang baru, laporan tetap nomor satu," ujar perwakilan dinas di sela-sela acara.
Ada yang lebih menarik dari sekadar angka simpanan pokok. Koperasi ini didorong masuk ke dunia digital. Nama aplikasinya: Simkopdes. Tujuannya satu: transparansi. Biar anggota tahu uangnya lari ke mana. Biar pengurus tidak pusing kalau ditanya soal Sisa Hasil Usaha (SHU).
Potensinya besar. Rangas itu basis nelayan. Laut adalah ladang duit. Pengurus mulai melirik unit usaha baru. Bukan cuma simpan pinjam yang bikin pusing itu. Tapi mulai masuk ke penyediaan bahan bakar, sembako, sampai distribusi hasil tangkapan. Logikanya masuk: nelayan butuh solar, koperasi punya barangnya. Nelayan dapat ikan, koperasi yang bantu jualnya.
Tentu, tantanganya tidak mudah. Mengubah pola pikir nelayan untuk berkoperasi itu perlu keringat. Perlu rekrutmen anggota baru yang lebih masif. Tapi melihat semangat di forum itu, optimisme sepertinya sedang tinggi-tingginya.
Keputusan besar sudah diambil. Laporan diterima, rencana kerja 2026 sudah diketok. Koperasi Merah Putih Rangas ingin membuktikan kalau ekonomi kerakyatan di tingkat kelurahan bukan cuma jargon kampanye.
Kita tunggu saja, apakah digitalisasi dan transparansi ini konsisten dijalankan. Atau hanya sekadar pemanis di tahun pertama. Yang jelas, langkah awalnya sudah benar. Maju terus, nelayan Rangas!
Viral Uang Rp50 Ribu Tanpa Gambar Keluar dari ATM, Kolektor Langsung Berani Bayar Mahal
Artikel Terkait
Bupati Parigi Moutong 'Dipaksa' Belajar di Jakarta Demi SDM Transportasi yang Handal
Stunting Parimo Turun Drastis ke 9,3 Persen, Tapi Opini BPK Masih Nyangkut di WDP
Samsung Galaxy A57 Masuk Indonesia: Bodi Setipis Kerupuk, Otak AI Sekelas Flagship!
Tak Perlu Root, Ini 3 Jurus Jitu Pulihkan Video Penting Tak Sengaja Terhapus
Viral Uang Rp50 Ribu Tanpa Gambar Keluar dari ATM, Kolektor Langsung Berani Bayar Mahal