Sulawesitoday - Di ruang pertemuan Redtop Hotel & Convention Center, Selasa kemarin, tidak ada protokoler yang kaku. Bupati Parigi Moutong dan timnya duduk tegak. Mereka bukan sedang memberi perintah, melainkan sedang "dipaksa" belajar.
Ini adalah Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan SDM Transportasi 2026. Penyelenggaranya Badan Pengembangan SDM Perhubungan. Temanya berat: Harmonisasi Kebijakan Pemenuhan SDM. Tapi esensinya sederhana, Parigi Moutong butuh orang pintar untuk mengurus perhubungan.
"Kita tidak boleh kalah cepat dengan teknologi transportasi yang terus berubah," bisik seorang staf ahli yang mendampingi Bupati di sela-sela pemaparan materi.
Dua hari penuh, hingga 8 April nanti, Bupati dan tim harus melahap materi teknis. Ada sosialisasi kebijakan terbaru, ada juga pembinaan kerja sama diklat. Paling menantang tentu saja coaching clinic. Di sana, mereka harus berkutat dengan draf dan dokumen kerja sama antara daerah dan Kemenhub.
Belajar memang melelahkan. Apalagi bagi pejabat yang biasanya sudah disibukkan dengan urusan politik di daerah. Tapi langkah ini wajib diambil. Tanpa SDM teknis yang mumpuni, urusan transportasi di Parigi Moutong hanya akan jalan di tempat.
Sinergi pusat-daerah sering kali mandek karena masalah komunikasi dan kurangnya pemahaman regulasi. Lewat rakor ini, sekat itu coba dibongkar. Pemerintah pusat menyiapkan karpet merah bagi daerah yang mau belajar dan bekerja sama secara profesional.
Kehadiran Bupati di Jakarta ini adalah simbol komitmen. Beliau ingin memastikan bahwa pelayanan publik di sektor transportasi bukan sekadar janji kampanye, tapi didukung oleh tenaga ahli yang bersertifikasi. Pembangunan berkelanjutan memang butuh keringat, termasuk keringat untuk belajar lagi di ruang-ruang kelas seperti ini.
Hasilnya? Tentu tidak langsung terlihat besok pagi. Tapi dengan implementasi kebijakan strategis yang tepat, Parigi Moutong sedang menyiapkan fondasi yang kuat.
Harapanya, setelah "dipaksa" belajar di Jakarta, tim teknis daerah pulang dengan bekal yang konkret. Bukan hanya membawa tumpukan berkas, tapi membawa perubahan nyata bagi mobilitas masyarakat di daerah. Perjalanan masih panjang, tapi arahnya sudah benar.
Legislator Chandra Setiawan Walk Out dari Paripurna, Protes Pejuang Pemekaran Parimo yang Dilupakan
Artikel Terkait
Majene Incar Dana Pusat, Targetkan Kota Tua Jadi Destinasi Unggulan Sulbar Tahun 2026
Sentilan Komisi IV DPRD Parimo, Berobat Gratis Pakai KTP Harus Diimbangi Mutu Layanan
Bantuan Hukum Gratis Sulteng Masuk Aplikasi, Kado Manis untuk Peresmian Nasional 8 April
Legislator Chandra Setiawan Walk Out dari Paripurna, Protes Pejuang Pemekaran Parimo yang Dilupakan
Bukan 70 Ribu Unit, Ini Penjelasan Bos BGN Soal Ribuan Motor Operasional MBG