Sulawesitoday - Jakarta sedang panas-panasnya. Tapi Bupati Majene, Andi Syukri Tammalele, tidak peduli. Senin kemarin, dia sudah berdiri di depan pintu Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata. Dia tidak datang untuk sekadar setor muka. Dia membawa misi besar: menyelamatkan harga diri Mandar.
Mandar itu hebat. Sejarahnya panjang. Pusat pemerintahan masa lalu ada di sana. Tapi, kalau museumnya masih begitu-begitu saja, siapa yang mau menengok? Anak muda sekarang lebih suka ke kafe daripada melihat artefak berdebu. Inilah yang ingin diubah Andi Syukri.
"Revitalisasi museum itu bukan cuma urusan cat tembok. Ini soal menjaga identitas dan martabat masyarakat Mandar," tegas sang Bupati di sela-sela kunjungannya.
Strateginya jelas. Lugas. Mirip gaya Tempo saat membedah kebijakan, namun tetap renyah dibaca. Museum Mandar harus menjadi pusat edukasi modern. Pengelolaannya harus berkelas dunia. Konservasinya tidak boleh amatiran.
Tak hanya museum. Ada juga proyek Boyang—rumah adat Mandar. Rencananya, ini akan jadi kawasan terpadu. Jadi pusat kebudayaan sekaligus magnet turis. Orang luar harus tahu kalau Sulawesi Barat punya sesuatu yang otentik.
Lalu ada agenda besar di tahun 2026. Kota Tua Majene akan dibangunkan dari tidurnya. Akan ada perpaduan event seni budaya yang dipusatkan di sana. Majene ingin punya daya saing tinggi. Tidak mau lagi hanya jadi penonton di peta pariwisata nasional.
Kepala Disbudpar Majene, Ahmad Djamaan, yang ikut mendampingi, tampak sibuk mencatat. Dia tahu, sinkronisasi dengan kebijakan pusat adalah kunci. Anggaran di daerah terbatas, maka "kue" dari APBN harus dikejar.
"Semangat kami adalah sibaliparriq. Gotong royong. Semua harus searah dengan pusat supaya hasilnya nyata," ujar Ahmad Djamaan.
Tentu, tantanganya besar. Birokrasi di Jakarta tidak selamanya mulus. Tapi langkah sudah diayunkan. Infrastruktur di destinasi unggulan akan dipoles. Ekonomi kreatif akan dipacu. Harapannya sederhana namun sangat fundamental: tercipta lapangan kerja baru dan ekonomi rakyat bergerak.
Majene sedang bertaruh pada sejarahnya sendiri. Jika proyek revitalisasi ini berhasil, Kota Tua itu tidak lagi sekadar saksi bisu masa lalu. Ia akan menjadi masa depan yang menjanjikan bagi masyarakat Sulawesi Barat.
Kita tunggu saja, apakah proposal yang dibawa dari tanah Mandar itu segera membuahkan hasil di meja menteri. Yang jelas, niat sudah bulat. Tinggal eksekusi yang harus dikawal ketat agar tidak sekadar jadi wacana di atas kertas di dinas pariwisata.
Gaya Baru Jurnalis Majene: Sekretariat Nyaman, WiFi Kencang, Berita Makin Berkualitas
Artikel Terkait
Utang Bansosda Parimo Meledak Rp 13 Miliar: UHC Jalan Terus, Tagihan Kok Malah Naik?
Legislator Parigi Moutong: Anggaran Ambulans Rp1 Miliar Ada, Rakyat Jangan Dipungut Uang Bensin!
Legislator Ini Kritik RS Jadi Mesin PAD di Parigi Moutong: Keberhasilan Itu Kalau Angka Orang Sakit Bisa Ditekan!
Kiamat Samsung Messages, Alasan Raksasa Korea Pilih Berlutut ke Google Messages
Gaya Baru Jurnalis Majene: Sekretariat Nyaman, WiFi Kencang, Berita Makin Berkualitas