• Senin, 20 Juli 2026

Selat Hormuz Lumpuh, Pasokan Helium Macet: Industri Semikonduktor Asia Tercekik

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Selasa, 17 Maret 2026 | 06:00 WIB
Konflik Iran-AS di Selat Hormuz memicu krisis helium global. Produksi chip, mesin MRI, hingga pengembangan teknologi AI terancam lumpuh total.
Konflik Iran-AS di Selat Hormuz memicu krisis helium global. Produksi chip, mesin MRI, hingga pengembangan teknologi AI terancam lumpuh total.

Sulawesitoday - Dunia sedang menahan napas. Mata tidak lagi hanya tertuju pada moncong meriam di perbatasan Iran, tapi pada sebuah lubang kecil di Qatar.

Pusat energi itu tutup. Gara-garanya cuma satu: serangan drone. Tapi dampaknya ke mana-mana. Produksi Liquefied Natural Gas (LNG) berhenti. Yang lebih gawat lagi, produksi helium ikut mampet.

Mungkin banyak yang mengira helium itu urusan balon ulang tahun belaka. Salah besar. Tanpa helium, teknologi modern bisa lumpuh.

Napas Chip yang Tersumbat

Helium adalah kunci. Di dunia medis, ia mendinginkan mesin MRI. Di pabrik-pabrik canggih, ia adalah pahlawan di balik layar pembuatan semikonduktor. Chip-chip yang ukurannya sekecil kuku itu butuh didinginkan dengan sangat cepat saat diproduksi. Jika tidak? Chip akan rusak karena panas berlebih (overheat).

Masalahnya, dunia sudah menderita krisis chip sejak akhir 2025 lalu. Sekarang ditambah lagi pasokan helium yang macet. Ibarat orang sudah sesak napas, lehernya masih dicekik pula.

Dampaknya akan sangat terasa pada "harta karun" masa depan: Kecerdasan Buatan alias Artificial Intelligence (AI). Tanpa chip canggih, pengembangan AI cuma jadi angan-angan.

Dilema Asia di Selat Hormuz

Amerika mungkin masih bisa bernapas lega karena punya sumur helium sendiri. Tapi Asia? Ini yang repot.

Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan adalah raksasa semikonduktor dunia. Taiwan saja memproduksi 60 persen chip global. Untuk yang paling canggih, penguasaannya mencapai 90 persen.

Para raksasa seperti TSMC dan Hynix sangat bergantung pada aliran helium dari Qatar. Angkanya tidak main-main: antara 40 hingga 50 persen kebutuhan mereka datang dari sana.

Sekarang, Selat Hormuz hampir lumpuh. Jalur logistik tersendat. Ekonom Andreas Steno Larsen dari Steno Research sudah mewanti-wanti: cadangan yang ada hanya akan bertahan beberapa bulan. Setelah itu? Gelap.

Bom Waktu Enam Bulan

Di pasar spot, harga helium sudah melonjak 50 persen. Memang, kontrak-kontrak lama masih melindungi harga untuk sementara. Tapi Phil Kornbluth, konsultan helium ternama, sudah mengingatkan bahwa rantai pasokan ini sangat panjang.

Halaman:

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini