• Senin, 20 Juli 2026

Formula Bertahan Media di Era Digital Terkuak di Mediapreneur Talks Promedia Teknologi Indonesia

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 2 Juli 2025 | 18:51 WIB
Promedia Teknologi Indonesia sukses gelar Mediapreneur Talks. Bahas jurnalisme, bisnis media, dan tren digital. Kunci bertahan di era 360.
Promedia Teknologi Indonesia sukses gelar Mediapreneur Talks. Bahas jurnalisme, bisnis media, dan tren digital. Kunci bertahan di era 360.

Sulawesitoday - Bagaimana media masa kini bisa bertahan dan bahkan berkembang di tengah pusaran disrupsi digital? Jawabnya, mungkin ada di ajang Mediapreneur Talks yang baru saja tuntas dihelat.

Promedia Teknologi Indonesia (PTI), sang nakhoda di balik gagasan ‘Journalism 360: Jurnalisme Berkualitas dan Berkelanjutan’, kembali menabur inspirasi. Kali ini, Hotel Mercure Serpong Alam Sutera, Tangerang, Banten, pada Rabu, 2 Juli 2025, menjadi saksi bisu kesuksesan Mediapreneur Talks episode ke-4.

Acara ini bukan sekadar seminar biasa; ia adalah titik temu para pengusaha media, insan pers, hingga content creator, yang berhasrat mengurai benang merah antara jurnalisme berkualitas dan roda bisnis yang berkelanjutan.

Sebelum menyambangi Banten, keriuhan ‘Journalism 360’ telah lebih dulu menyapa Semarang (Oktober 2024), Palembang (Desember 2024), dan Medan (Januari 2025). Sebuah perjalanan yang disuport penuh oleh deretan nama besar seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, serta dukungan dari Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB), dan Bank BJB Syariah.

Optimisme di Tengah Badai Digital: Kolaborasi adalah Kunci

Agus Sulistriyono, sang CEO Promedia, membuka tabir diskusi dengan narasi penuh optimisme. Ia tak segan memaparkan visi perusahaannya: membangun media online arus utama lewat kolaborasi dan konsep 'economic sharing' atau gotong royong. "Promedia Teknologi Indonesia adalah perusahaan teknologi dan konsultan media. Kita kolaborasi membangun media online arus utama bersama para pemilik media dan jurnalis di seluruh Indonesia," ujarnya. Baginya, bisnis informasi itu ibarat air mengalir, takkan pernah mati, walau wadahnya silih berganti.

"Perusahaan ini memberikan suport teknologi, infrastruktur, pelatihan, strategi dan monetisasi dengan mengusung konsep economic sharing atau gotong royong," tambahnya, mengajak para pengusaha media untuk terus merajut asa, mempertahankan brand yang telah susah payah dibangun. Di tengah gelombang kegalauan, suara Agus terdengar bak oase, menegaskan bahwa keyakinan pada masa depan jurnalisme adalah harga mati.

Membaca Arah Angin Iklan Digital dan Peluang Baru

Lanskap periklanan digital tak luput dari bidikan. Ilona Juwita, Co-Founder dan CEO ProPS, hadir memaparkan data yang menggugah. Proyeksi pertumbuhan iklan di Indonesia pada 2025 yang mencapai 5,1 persen dengan nilai fantastis 4 juta dolar AS (sekitar Rp64,9 miliar), menjadi penanda era baru. Namun, lebih dari sekadar angka, Ilona menekankan pentingnya pengelolaan data pelanggan. Ia menyebut, "Tidak hanya konten, pengelolaan data pelanggan menjadi sama pentingnya untuk memastikan pengalaman berkunjung yang tepat, dan peluang baru dalam monetisasi iklan." Sebuah petunjuk bahwa di era ini, data adalah raja, dan kemampuannya mengelola data adalah mahkota.

Benteng Jurnalisme Berkualitas di Era Banjir Disinformasi

Puncak diskusi menyentuh isu krusial: jurnalisme berkualitas di tengah gempuran disrupsi. Suprapto Sastro Atmojo, Ketua Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB) —atau lebih dikenal sebagai Komite Publisher Rights—, menjelaskan bagaimana transformasi digital membalikkan meja cara kerja media.

Popularitas media sosial dan platform digital, meski membawa kebaikan, juga membuka pintu lebar bagi laju hoax dan disinformasi. "Informasi dan disinformasi juga menjadi ancaman bagi jurnalisme yang berkualitas," tegas Suprapto.

Baca Juga: Anggota DPRD Kendari Kena Sorot, Nge-Vape Saat Rapat PHK Massal Karyawan

Dalam konteks inilah, Perpres 32 tahun 2024 ditetapkan, sebuah payung hukum yang diharapkan menjadi benteng, memastikan jurnalisme tetap menjadi mercusuar kebenaran di tengah lautan informasi yang kadang menyesatkan.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini