Sulawesitoday - Ada kalanya keadilan terasa begitu dekat, namun jaring kejahatan narkotika seolah tak pernah putus. Sebuah ironi yang mencabik: di saat semua mata tertuju pada pemberantasan, sindikat barang haram justru merajut jejaringnya, bahkan dari balik dinginnya tembok penjara. Kini, sebuah plot twist mengejutkan muncul: Kodim 1311 Morowali berhasil membongkar pasutri pengedar sabu 400 gram yang kuncinya ada di tangan seorang napi Lapas Palu. Sebuah kisah yang membuat kita bertanya, sampai kapan lingkaran setan ini berputar?
Hari itu, Selasa 29 Juli 2025, sekitar pukul 13.47 Wita. Desa Bahodopi, Kecamatan Bahodopi, Morowali. Suasana tiba-tiba tegang. Personel Kodim 1311 Morowali, yang didukung penuh Korem 132 Tadulako, tak menyia-nyiakan waktu. Mereka mendatangi sebuah kamar kos. Di dalamnya, sepasang suami istri berinisial AN dan RA tak bisa mengelak. Delapan bungkus sabu, dengan berat kotor kurang lebih 400 gram, ditemukan di tangan mereka. Ini bukan tangkapan biasa. Ini pukulan telak.
"Barang titipan," begitu pengakuan AN dan RA. Sebuah kata yang membuka tabir. Narkotika itu rupanya "amanah" dari Tawakal, seorang narapidana di Maesa Lapas Palu. Ya, benar. Seorang napi. Informasi ini bagai kilat menyambar, menerangi betapa peliknya peredaran narkotika Morowali. Jaringannya begitu kompleks, menembus batas-batas yang seharusnya tak bisa ditembus.
Kronologinya sederhana, tapi penuh ketegangan. Informasi awal datang dari jaringan intelijen Kodim. Ada dugaan kuat peredaran sabu di salah satu kos. Mayor Nofry Poli, Kasdim 1311 Morowali, membeberkan ini. "Siang tadi setelah melakukan pemantauan, sekitar pukul 13.47 Wita personelnya dibantu oleh anggota Korem 132 Tadulako mendatangi kamar kos yang dicurigai dan mendapatkan pasangan suami istri bersama barang bukti sabu,” ujarnya lugas. Aksi ini disaksikan langsung oleh Babinsa, Kepala Dusun, dan Linmas setempat. Profesional. Terstruktur.
Kini, pasutri pengedar dan seluruh barang bukti sabu 400 gram itu sudah diamankan di Makodim 1311 Morowali. Rencananya, mereka akan segera dilimpahkan ke pihak berwenang untuk proses hukum. Pengungkapan ini, sekali lagi, mengingatkan kita. Perang melawan narkotika Morowali adalah pertarungan panjang. Perlu mata elang dan telinga tajam. Terutama, untuk memutus benang kusut jaringan yang ternyata, bisa saja berawal dari balik jeruji.
Artikel Terkait
Siapkah Siswa SD Hadapi Era Digital? Disdikbud Parigi Moutong Jawab Lewat Boskin 2025
Kisah Pilu Palu Penggerebekan Narkoba Berujung Rusuh, Gas Air Mata Hantam Warga di Rumah Duka
Percepatan Izin Tambang, Strategi Parigi Moutong Kerek PAD - Jamin Keadilan
Stunting Terus Dihantam! Disdikbud Parimo Andalkan PAUD dan Data Akurat, Bentuk Generasi Tangguh
Gempa Dahsyat Kamchatka, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami untuk SULUT, MALUT, PAPUABAR, GORONTALO