Sulawesitoday - Apresiasi mengalir deras dari Presiden Prabowo Subianto. Bukan tanpa alasan. Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bumi Khatulistiwa, Kalimantan Barat, telah mencapai titik krusial. Zero titik panas. Sebuah kabar yang melegakan. Seolah menjadi oase di tengah terik kemarau.
Keadaan ini dilaporkan langsung oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, dalam sambungan video denga Presiden. Hari itu Sabtu (2/8). Presiden menekankan pentingnya sinergi lintas instansi. Ia juga memuji upaya pantang menyerah yang telah membuahkan hasil. "Kepala BNPB terima kasih atas keadaan yang sudah bisa dikendalikan," ujar Prabowo, "tolong kepada semua pihak apabila masih ada titik api agar segera dipadamkan."
Namun, di balik kabar baik ini, ada cerita panjang yang mendahului. Perjuangan itu ibarat benang kusut yang harus diurai perlahan. Data Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mencatat, hanya dalam satu minggu terakhir saja, ada 855 titik panas yang terdeteksi. Luas lahan yang terbakar mencapai 1.149,02 Hektar. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan dari pil pahit yang harus ditelan. Cerminan dari luka mendalam pada paru-paru dunia.
Oleh sebab itu, sejak 17 April, Pemerintah Provinsi telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Langkah ini segera disambut arahan Presiden. BNPB langsung bergerak cepat. Suharyanto melakukan koordinasi lintas kementerian. Menyusun strategi komprehensif. Operasi penanganan darurat pun resmi dimulai.
Strategi yang ditempuh tak main-main. Penguatan Satgas Darat menjadi garda terdepan. Personel gabungan dari BNPB, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan diterjunkan. Tak cukup di darat, satgas udara pun diperkuat. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi andalan. Sejak 4 Juli, dua pesawat Cessna Caravan dikerahkan. Selama 68 jam 2 menit mengudara. Sebanyak 31 sortie dilaksanakan. Total 35.400 kg bahan semai disebar di langit Kalimantan Barat.
Satgas udara juga diperkuat dua helikopter patroli. Mereka bertugas memantau dan menemukan titik api. Dua helikopter water-bombing pun disiagakan. Helikopter-helikopter ini menjadi penyelamat bagi satgas darat. Mereka bisa menjangkau titik api di area yang sulit.
Tak hanya padamkan api, penegakan hukum juga tak luput dari perhatian. Satgas telah menyegel empat perusahaan kehutanan. Sebuah langkah tegas. Ini adalah pesan penting. Bahwa karhutla bukan sekadar bencana alam, tapi juga persoalan hukum.
"Kami laporkan kesimpulan sampai denga hari ini, kami pastikan situasi penanganan karhutla di Indonesia terkendali," ujar Suharyanto. Laporan ini menjadi penegasan. Bahwa kerja keras tanpa lelah semua pihak telah membuahkan hasil. Titik panas yang membakar Kalimantan Barat kini menjadi nol.
Meski begitu, perjuangan belum benar-benar usai. Masih ada dua provinsi di Kalimantan yang dalam pemantauan. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Menjelang puncak musim kemarau, kewaspadaan harus tetap dijaga. Sinergi yang kuat dan pantang menyerah adalah kunci. Bagaikan sebuah janji yang tak boleh dilanggar. Bahwa Bumi Khatulistiwa harus selalu lestari.
Baca Juga: Bakamla Hentikan Penyelundupan, Nakhoda Kapal Akui Tiga Kali Kirim Bawang Ilegal
Artikel Terkait
Polda Metro Jebol Jaringan Cina, 35 Kg Sabu Disita dari Dua Lokasi
Tumpang Tindih Kawasan WPR dan Lahan Pertanian Abadi di Parimo, Dilema Legalitas Tambang Rakyat
Benang Kusut Tambang Parimo, Dishut Sulteng Ingatkan Ancaman Vonis Hukum dan Bencana Ekologis
Awan Abu Setinggi 18 Ribu Meter Bak Teror, Status Awas Lewotobi Laki-laki Masih Tinggi
Bakamla Hentikan Penyelundupan, Nakhoda Kapal Akui Tiga Kali Kirim Bawang Ilegal