• Selasa, 21 Juli 2026

OJK Ganti Nama Pinjol Jadi Pindar, Ungkap Fakta Ironis Soal Manfaat dan Jebakan Utang Konsumtif

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 19:13 WIB
OJK resmikan istilah pindar ganti pinjol. Simak alasan di balik kebijakan ini, dari upaya lawan stigma negatif hingga jebakan utang konsumtif yang membelit anak muda.
OJK resmikan istilah pindar ganti pinjol. Simak alasan di balik kebijakan ini, dari upaya lawan stigma negatif hingga jebakan utang konsumtif yang membelit anak muda.

Sulawesitoday - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya ambil sikap. Bukan dengan sanksi baru, melainkan melawan stigma yang telah lama membelenggu. Sebuah kata kini 'diistirahatkan' dari perbendaharaan regulasi. Istilah itu adalah pinjol. Kini secara resmi, OJK menggantinya menjadi pindar.

Pergantian nama ini, secara mengejutkan, diumumkan oleh Friderica Widyasari Dewi. Ia Kepala Eksekutif Pengawasan Perilaku Usaha Jasa Keuangan sekaligus Dewan Komisioner OJK. Saat jumpa pers di Pasific Place, Jakarta, pada Selasa (12/8/2025), Friderica membeberkan rahasia di balik keputusan itu.

Ia berkata lugas, "Istilah pinjol itu sudah terkontaminasi." Sudah terlalu banyak kasus ilegal yang mencoreng namanya. Sebuah kata yang seharusnya mewakili kemudahan, kini justru identik dengan jebakan utang. Itulah mengapa OJK merasa perlu membedakannya dari pinjaman online yang ilegal.

Friderica menegaskan bahwa pindar, alias pinjaman daring, sejatinya punya manfaat besar. Ia contohkan pelaku UMKM. Mereka punya bisnis warteg yang baik. Butuh modal cepat. Pagi hari modal cair, sore hari omset kembali.

"Mereka pakai pindar dengan baik," ujarnya. Meski bunga yang dipatok relatif tinggi. Mereka tahu bisa segera mengembalikan.

Tapi ada cerita lain yang lebih tragis. Friderica melanjutkan, ada sisi gelapnya. "Pindar itu menjadi bumerang." Khususnya saat digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Beli tas baru. Ponsel canggih. Pakaian trendi. Itu yang bikin banyak anak muda terperosok. Terperangkap dalam lingkaran utang. Sebuah lingkaran setan. "Mereka korban dari hal seperti itu."

Pada akhirnya, baik atau tidaknya suatu alat tidak terletak pada namanya. Tidak pula pada bunganya. Tapi pada tangan siapa ia digunakan. Semua kembali pada kebijaksanaan kita sendiri. Jadi, apakah Anda akan menganggapnya sebagai "jebakan" atau "solusi"? Itu sepenuhnya pilihan Anda.

Baca Juga: Aliran Dana Skandal Kuota Haji Era Yaqut Disidik, KPK Segera Tetapkan Tersangka dari Kemenag dan Agen Travel

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini