Sulawesitoday - Kekesalan sang maestro terekam jelas di media sosial. Dari puluhan juta rupiah, uang royalti yang seharusnya mengalir ke kantong musisi Ari Lasso hanya menetes Rp700 ribuan saja. Ini bukan kisah fiksi. Ini adalah realita pahit yang dihadapi mantan vokalis Dewa 19 itu dari Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) WAMI. Sebuah cerita tentang ketidakadilan yang membuat publik terhenyak.
Uang sebesar puluhan juta rupiah itu menguap begitu saja. Di laporan yang ia terima, tertulis pendapatan yang mestinya besar. Namun, di rekeningnya, uang itu hanya berjumlah Rp700 ribuan. Kejanggalan makin tebal.
Nama penerima uang di laporan itu bukan Ari Lasso. Melainkan nama orang lain: Mutholilah Rizal Affand. Ia dibuat bingung: apakah laporan yang keliru atau memang dananya salah kirim?
"Saya bingung membaca dari sekian puluh juta yang menetes hanya 700an ribu," tuturnya. Pelantun tembang Mengejar Matahari itu merasa ada kekonyolan hebat. "Kekonyolan yang paling hebat adalah Anda transfer ke rekening 'Mutholilah Rizal'," lanjutnya dengan nada geram. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Uang itu milik siapa? Apakah laporan itu milik dia tapi dananya tertukar ke orang lain? Semua tak terjawab.
Sebab itu, ia dengan tegas menyebut manajemen WAMI sangat buruk. Lembaga ini dikelola serampangan. Buruknya pengelolaan ini berpotensi merugikan banyak musisi lain.
Bahkan, potensi kerugian itu bisa berdampak ke negara. Banyak “permainan” atau kecerobohan yang terjadi. Sebuah sistem yang seharusnya menjadi penjaga hak musisi, kini justru menjadi tembok tak transparan.
Kini, sang musisi menuntut kejelasan. Ia mendesak agar WAMI diperiksa. Lembaga kredibilitasnya lembaga ini patut dipertanyakan. Ia meminta lembaga negara seperti DPR, KPK, atau Bareskrim untuk turun tangan. Bukan untuk menghukum.
Tapi untuk menjadikan WAMI sebuah lembaga yang benar-benar kredibel. Lembaga yang mengurus royalti dengan penuh integritas.
Sebagai puncak kekecewaannya, Ari Lasso membuat pernyataan mengejutkan. Ia membebaskan penggunaan lagu-lagunya. Untuk semua teman musisi, penyanyi wedding, cafe, hingga event, ia mengizinkan lagu-lagunya diputar. Silakan, katanya.
"Percuma Anda membayar tapi pengelolaannya kayak gini," tegasnya. Ini adalah sebuah bentuk protes. Sebuah seruan agar musisi bersatu. Untuk memperjuangkan hak mereka dengan cara yang lebih baik.
Baca Juga: DPR Wanti-wanti Kepala Daerah Tak Ikuti Jejak Bupati Pati soal Transparansi dan Akuntabilitas
Artikel Terkait
Ratusan Pelajar di Sragen Keracunan Usai Santap Menu MBG, Begini Kronologi Lengkapnya
KPK Geledah Kantor Ditjen PHU, Usut Dugaan Rasuah Kuota Haji
Resmi Ditandatangani, KUA dan PPAS Anggaran 2026 Jadi Pagu Indikatif RPJMD Kota Palu
KPK Sita Dua Mobil Mewah dan Uang Rp2 Miliar dari OTT Suap Izin Hutan PT Inhutani V
DPR Wanti-wanti Kepala Daerah Tak Ikuti Jejak Bupati Pati soal Transparansi dan Akuntabilitas