Sulawesitoday - Pengamat politik Rocky Gerung melayangkan kritik pedas terhadap pendekatan kebijakan ekonomi Menteri Keuangan Yudi Purbaya. Dalam forum diskusi Great Institute, Rocky mempertanyakan logika strategi moneter yang diusung Purbaya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
"Determinasi Pak Purbaya memang patut diapresiasi," ujar Rocky memulai analisisnya. Namun, ia segera menambahkan keraguan akademis yang mendasar.
Menkeu Purbaya dalam presentasinya mengadopsi teori Milton Friedman tentang kebijakan moneter. Pendekatan ini, menurut Rocky, justru mengabaikan akar persoalan yang sesungguhnya. Problem struktural terletak pada sektor fiskal. Bukan pada instrumen moneter.
"Bagaimana mungkin kasir bisa mendorong pabrik bekerja optimal?" sindir Rocky dengan analogi yang tajam. "Sementara kepala pabriknya adalah para politisi teknis yang publik anggap copet."
Kritik Rocky menyasar pada ketidaksinkronan antar kementerian. Pertumbuhan ekonomi 8 persen memerlukan koordinasi solid dari kementerian perdagangan, perindustrian, hingga pertanian. Ironisnya, pos-pos strategis tersebut masih dikuasai partai politik dengan track record yang dipertanyakan publik.
Kondisi ini menciptakan paradoks kepercayaan. "Pemerintah optimis namun irasional," tegas Rocky. "Publik pesimis tapi rasional."
Lebih jauh, Rocky mengangkat isu yang jarang disentuh pejabat: dampak ekologis pertumbuhan ekonomi. Ia mencontohkan skenario berbahaya jika ekonomi tumbuh 8 persen namun kerusakan lingkungan mencapai 10 persen. Hasil akhirnya justru kontraproduktif.
"Standar internasional sudah memasukan variabel lingkungan dalam mengukur pertumbuhan," Rocky mengingatkan. "Tapi dari kabinet kita, belum ada yang membicarakan hal ini secara serius."
Rocky kemudian mengajukan skenario alternatif yang menarik. Purbaya berpotensi menjadi "super minister" jika Presiden Prabowo berani melakukan perubahan radikal. Namun, hal itu mensyaratkan pembersihan menteri-menteri bermasalah.
"Ilmu ekonomi tidak pernah berbohong," kata Rocky dengan nada tegas. "Tapi Menteri Ekonomi bisa berbohong karena ia seorang politisi. Pertanyaannya, apakah Presiden berani membereskan para begundal?"
Tantangan terbesar, lanjut Rocky, terletak pada keberanian politik untuk melakukan radical break. Tanpa perubahan mendasar dalam tata kelola, ambisi pertumbuhan 8 persen hanya akan menjadi retorika kosong.
Rocky menutup analisisnya dengan peringatan sosial yang mengena. Beban ekonomi yang buruk selalu ditanggung rakyat kecil. Terutama kaum ibu rumah tangga yang paling merasakan dampak inflasi dan daya beli yang menurun.
"Kalau para ibu sudah turun ke jalan dengan membawa panci," Rocky memperingatkan, "itu tanda daya beli benar-benar hancur."
Kritik Rocky ini menggarisbawahi dilema pemerintahan Prabowo. Optimisme ekonomi harus diimbangi dengan realitas politik, sosial, dan lingkungan. Tanpa sinergi yang solid dan perubahan radikal dalam ekologi politik, target pertumbuhan 8 persen akan tetap menjadi mimpi di siang bolong.
Artikel Terkait
Normalisasi Sungai Jadi Solusi Utama Atasi Banjir Desa Matolele Parimo
18 Siswa SDK Toboli Barat Diduga Keracunan Makanan Bergizi Gratis, Disdikbud Parigi Moutong Belum Terima Laporan Resmi
Ribuan Guru di Parigi Moutong Potensi Raih Sertifikasi, Apa Itu, Syarat dan Cara Mendapatkannya?
Siswa SDN Toboli Parigi Moutong Antusias Ikuti Program Edukasi Keselamatan Lalu Lintas
Era Baru Pendidikan Parigi Moutong, Guru Wajib Kuasai Dapodik: Ini Persyaratan dan Dampaknya